Pengertian Puasa Mutih, Syarat, Rukun, Dan Tata Caranya

Diposting pada

Puasa Mutih Adalah

Dalam banyak jenis puasa yang dilakukan seseorang, salah satunya adalah puasa mutih. Puasa ini memang bukan puasa pada umumnya, tetapi puasa ini dilakukan karena menjadi bagian tirakat manusia untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Lantas apa sebenarnya pengertian puasa mutih, syarat, rukun, dan tata caranya? Berikut ini ulasannya.

Puasa Mutih

Seperti yang sudah disebut dalam pembukaan artikel ini, puasa mutih menjadi bagian dari tirakat yang banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa. Meski demikian, banyak yang menyangsikan puasa ini. Hukum boleh tidak melakukan puasa ini juga menjadi pertanyaan banyak orang, terlepas apakah mereka akan berniat melakukan puasa ini atau sekadar menanyakan hukumnya saja.

Memang benar, dalam ajaran islam, atau zaman Nabi, misalnya, tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan puasa mutih. Sebab puasa mutih adalah tradisi jawa. Bukan tradisi arab, apalagi jika mengaitkannya dengan tradisi Islam.

Meski demikian, Islam memiliki hukum yang tidak hanya bersumber dari Quran dan hadits, melainkan juga dari ijtihad. Salah satu ijtihad itu adalah mengambil hukum atau menghukumi suatu perkara yang tidak ada hukumnya dengan mubah, sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Puasa mutih pun demikian. Tidak ada dasar hukum puasa mutih, baik Quran atau pun Hadits. Sekali lagi, memang, puasa mutih hanya tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Jawa. Dan karena tidak ada dasar hukumnya, maka perlu ditilik bertentangan atau tidak puasa mutih dengan syariat. Dan karena tidak bertentangan, maka puasa mutih boleh dilakukan.

Pengertian Puasa Mutih

Definisi puasa mutih adalah puasa yang dilakukan dengan hanya memakan nasi putih dengan air saja. Dengan begitu, orang yang puasa mutih tidak makan apapun. Sebab makanannya hanya nasi putih saja, ditambah dengan minum air putih.

Puasa semacam ini akrab dengan lingkungan kejawen. Tetapi, di pesantren-pesantren salaf pun juga banyak yang melakukan puasa semacam ini. Tujuannya bukan untuk tujuan yang kearah duniawi atau kekebalan dan semacamnya, melainkan sebagai laku tirakat.

Ini tentu berbeda dengan puasa mutih yang dilakukan dengan sistem kejawen. Sebab, biasanya puasa mutih dilakukan dalam rangka berhubungan dengan hal-hal yang bersifat ghoib. Dan ini juga yang menjadikan puasa ini kerap diindikasikan dengan laku-laku yang jauh dari syara’.

Syarat Puasa Mutih

Seperti halnya puasa pada umumnya, puasa mutih memiliki syarat yang sama persis. Artinya, syarat-syarat yang Anda lakukan ketika Anda melaksanakan Puasa Ramadhan atau Puasa Senin Kamis, maka itu juga Anda lakukan pada puasa mutih. Berbeda jika puasa mutih yang dilakukan adalah puasa mutih ala kejawen, mungkin akan sedikit berbeda baik syarat atau rukunnya.

Tentang syarat puasa, meski Anda sudah sering mendengar, Anda tetap bisa menyimaknya lewat penjelasan berikut ini:

  • Islam

Hal ini menjadi syarat. Dengan kata lain, jika seseorang keluar dari agama Islam, puasa yang dilakukannya tidak akan menjadi sah. Inilah mengapa, puasa orang murtad tidak bisa sah. Di sisi lain, ketika orang murtad tersebut kembali masuk Islam, dia diwajibkan mengganti puasa yang ditinggalkannya selama orang tersebut murtad.

Berbeda tentu dengan orang yang memang sudah tidak beragama Islam sejak lahir. Dia tidak diwajibkan melaksanakan puasa. Jika satu ketika dia masuk Islam, dia juga tidak memiliki tanggungan puasa yang tidak dia lakukan selama menjadi kafir dulu.

  • Baligh

Baligh biasa menjadi batas seseorang disebut mukallaf. Mukallaf adalah usia di mana seluruh kewajiban syara’ dibebankan kepada seseorang, termasuk kewajiban puasa. Jika pun perkara yang dilakukan adalah perkara sunnah semacam Puasa Senin Kamis, maka pahala puasa tersebut diberikan kepada orangtua si anak yang belum baligh tersebut. Dalam puasa mutih pun tampaknya demikian juga.

Kebalighan seseorang bisa dilihat dari umur atau dari tanda yang muncul. Umur atau usia baligh adalah 9 tahun untuk perempuan dan 15 tahun untuk laki-laki. Jika dilihat dari tanda, tanda perempuan baligh adalah ketika perempuan tersebut sudah mengeluarkan darah haid. Sedang laki-laki, sudah mengeluarkan sperma.

  • Berakal

Salah satu syarat puasa adalah berakal. Berakal dalam puasa adalah sudah tamyiz, tidak gila, atau tidak terserang epilepsi. Jika akal hilang karena tidur, maka itu tidak termasuk dari bagian ini. Tamyiz sendiri adalah suatu keadaan di mana seseorang bisa membedakan baik dan buruk. Atau bisa juga, tamyiz adalah keadaan seseorang bisa menentukan pilihan.

  • Mampu berpuasa

Ini syarat pamungkas bagi seseorang sebelum melakukan puasa, dia harus mampu berpuasa. Percuma seseorang Islam, baligh, berakal, tetapi secara fisik dia tidak mampu menjalankan puasa.

Perkara mampu dan tidak berpuasa ini memiliki alasan-alasan tertentu yang bisa dibenarkan. Artinya, memang bukan karena orang tersebut tidak ingin berpuasa. Sebab tidak mampu menjalankan puasa bisa diakibatkan karena sakit. Atau bisa juga karena tengah hamil atau tengah menyusui, sedang dia khawatir, jika dampaknya tidak baik bagi si bayi.

Rukun Puasa Mutih

Pada umumnya, setiap puasa memiliki rukun yang sama. Rukun tersebut adalah berniat puasa, lalu menjaga diri dari hal yang bisa membuat puasa menjadi batal. Itu saja sebenarnya.

Puasa mutih sendiri adalah salah satu jenis puasa. Maka rukun seperti yang sudah disebutkan di atas juga terlaku untuk puasa mutih. Hanya saja, ada hal khusus yang dilakukan pada puasa mutih. Hal inilah yang lantas membedakan puasa mutih dengan puasa-puasa yang lain.

  • Niat

Seperti yang banyak dibahas dalam literatur beribadah, niat adalah bagian penting yang tidak boleh ditinggalkan. Demikian juga ketika orang berpuasa, termasuk puasa mutih, seseorang harus melakukan niat berpuasa.

Dalam puasa, niat bisa dilakukan pada malam hari atau bahkan ketika sudah masuk waktu subuh. Hanya saja, untuk puasa fardlu, niat disyaratkan harus pada malam hari sebelum masuk waktu subuh. Berbeda dengan niat puasa sunnah. Niat puasa sunnah boleh dilakukan ketika sudah masuk waktu subuh. Ada yang menyebut batasnya hingga masuk waktu istiwak, niat puasa tetap boleh dilakukan.

  • Menjaga dan tidak melakukan hal yang bisa membuat puasa batal

Secara arti, puasa memang menahan atau menjaga. Maka, inti yang dilakukan adalah menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Saat berpuasa, makan dan minum jelas tidak boleh dilakukan. Demikian juga dengan melakukan hubungan suami-istri. Namun jika sebatas mencium dan menyentuh saja masih diperbolehkan.

Menyengaja diri untuk muntah juga tidak boleh dilakukan. Jika pada umumnya, Anda mencium bau kotoran ayam langsung muntah, maka Anda harus menjauh dari tempat yang membuat Anda mencium bau kotoran ayam. Sekadar tiba-tiba menemukan dan mencium baunya saja tidak masalah. Tetapi jika Anda yakin pergi ke tempat tertentu Anda akan muntah karena mencium bau kotoran ayam, maka itu tidak boleh dilakukan.

Tata Cara Puasa Mutih

Puasa mutih memang berbeda dengan puasa-puasa yang lain. meskipun syarat dan rukunnya sama, tetapi ada hal khusus yang harus dilakukan ketika seseorang melakukan puasa mutih.

  • Niat puasa mutih

Yang pertama dari niatnya. Niat puasa mutih boleh tidak dilakukan dengan bahasa Arab. Mungkin Anda akan kesulitan menemukan niat puasa mutih yang berbahasa Arab. Sebab, puasa mutih bukan kebiasaan masyarakat Arab. Puasa mutih adalah kebiasan masyarakat Indonesia.

Karena itu, puasa mutih dilakukan dengan bahasa Jawa saja. Atau bisa juga menggunakan bahasa daerah masing-masing. Jika misalnya, Anda ingin berniat puasa mutih menggunakan bahasa Arab, tentu itu akan sangat bagus. Salah satu niat yang bisa Anda ucapkan adalah: saya niat melakukan puasa mutih lillahi ta’ala.

  • Laku puasa mutih

Seperti yang sudah disebutkan, puasa mutih memiliki rukun dan syarat yang sama denga puasa pada umumnya. Tetapi, yang membedakan puasa ini dengan puasa lain adalah apa yang dimakan. Jika pada puasa lain, tidak ada pantangan apapun soal makanan, pada puasa mutih tidak demikian.

Ketika Anda melakukan puasa mutih, Anda hanya akan mengkonsumsi nasi putih dan air putih saja. Jadi, lupakan sejenak enaknya nasi goreng, segarnya es kopyor, atau lezatnya aneka lauk. Menu sahur, menu buka hanya itu, nasi putih dan air putih saja.

Beberapa orang bahkan melakukan puasa mutih hanya dengan mengkonsumsi nasi putih sekepal, ditambah air putih segelas. Keduanya bisa dikonsumsi saat buka saja, atau saat sahur saja.

Demikian ulasan tentang klengkap yang bisa kami tuliskan terkait dengan pengertian puasa mutih, syarat, rukun, dan tata caranya. Semoga melalui artikel ini bisa bermanfaat bagi segenap pembaca yang sedang mencari referensi ke-Islaman. Salam.

One thought on “Pengertian Puasa Mutih, Syarat, Rukun, Dan Tata Caranya

  1. Assalamualaikum .saya ingin bertanya .apakah puasa mutih boleh kluar ..trus apakah abis berbuka boleh ngeroko semacam makanan lain.apa lanjut berpuasa lagih .sampe ketemu saur .trus berpuasa lagih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *