Pengertian Puasa Ramadhan, Syarat, Rukun, dan Tata Caranya

Diposting pada
Rate this post
Puasa Ramadhan Adalah

Salah satu puasa yang menjadi rutinitas umat Islam setiap tahun adalah Puasa Ramadhan. Puasa ini wajib dilakukan oleh setiap umat Islam karena menjadi bagian dari rukun Islam. Karena itu, mengulas bagaimana pengertian Puasa Ramadhan, syarat, rukun, dan tata caranya adalah hal yang penting dilakukan.

Puasa Ramadhan

Puasa dalam bahasa Arab disebut Shiyam. Susunan hurufnya adalah shod, ya’, alif, dan mim. Atau bisa juga disebut Shoum, yang susunan hurufnya adalah shod, wawu, dan mim. Secara bahasa kedua kata tersebut memiliki arti mencegah atau menahan.

Berbeda dengan arti secara syara’ yang lebih melengkapi arti secara bahasa. Arti secara syara’ dari puasa adalah mencegah diri dari hal yang membatalkan puasa dengan satu niat khusus dalam seluruh waktu siang.

Dengan definisi demikian, maka tidak ada istilah puasa malam hari. Tidak ada juga puasa hanya setengah hari. Atau, kalaupun ada puasa dhuhur atau puasa asar yang dilakukan oleh anak kecil, maka itu bukan tergolong puasa, melainkan latihan berpuasa.

Tentang maksud ‘seluruh waktu siang’ dalam definisi puasa? Maksud seluruh waktu siang adalah mulai munculnya Fajar Shodiq, dalam hal ini adalah masuk waktu subuh, hingga munculnya mega merah, dalam hal ini adalah waktu maghrib. Tambahan, hari di mana seseorang berpuasa bukan lah hari yang diharamkan untuk berpuasa. Contoh hari yang diharamkan berpuasa adalah hari raya dan hari tasyrik.

Berpuasa pada Hari Syak juga tidak diperbolehkan. Hari Syak sendiri adalah hari yang meragukan. Pada hari tersebut, seseorang tidak boleh berpuasa tanpa ada sebab tertentu.

Ulasan di atas tentu sudah cukup terang memaparkan arti puasa secara umum. Lalu, bagaimana dengan pengertian Puasa Ramadhan? Puasa Ramadhan bisa diartikan sebagaimana puasa pada umumnya. Hanya saja, karena Puasa Ramadhan adalah puasa wajib, maka perlu tambahan sedikit.

Dengan begitu, bila didefinisikan, Puasa Ramadhan adalah puasa wajib yang dilakukan pada Bulan Ramadhan. Kiranya definisi ini sudah cukup mewakili.

Syarat Puasa Ramadhan

Ada 4 syarat wajib puasa yang harus dipenuhi seseorang sebelum berpuasa, baik itu Puasa Ramadhan atau puasa yang lain. Empat syarat tersebut adalah:

  • Islam

Dengan syarat ini, akhirnya, seorang yang belum masuk Islam tidak memiliki kewajiban berpuasa. Orang yang belum masuk Islam di sini adalah orang yang sejak lahir memang tidak pernah mengakui dirinya sebagai Islam. Ini yang disebut dengan non muslim asli. Atau, dalam istilah Fiqih disebut dengan kafir asli.

Berbeda dengan orang yang murtad. Orang yang murtad tetap memiliki kewajiban puasa. Namun, kewajiban itu baru boleh dilaksanakan kalau orang murtad tersebut sudah masuk kembali ke dalam Islam. Kesimpulannya, ketika orang murtad sudah masuk kembali ke dalam Islam, dia wajib mengganti puasa yang sudah ditinggalkannya selama murtad.

  • Baligh

Kategori baligh adalah sudah mencapai umur sembilan tahun bagi perempuan, atau mencapai umur 15 tahun bagi laki-laki.

Hitungan umur yang digunakan adalah hitungan Bulan Qomariyyah atau menggunakan Tahun Hijriyyah. Selain umur, baligh juga bisa ditandai dengan haidh pada perempuan, atau keluar mani pada laki-laki. Sehingga baligh bosa dilihat dari dua hal, bisa dengan melihat usia, bisa dengan melihat tanda baligh.

  • Berakal

Yang dimaksud berakal di sini adalah sudah tamyiz. Tamyiz adalah sudah bisa membedakan baik-buruk. Dalam penjelasan puasa, berakal dipahami dengan tidak gila, tidak sedang mabuk, dan tidak tengah terserang epilepsi. Orang yang terserang penyakit-penyakit tersebut, puasanya menjadi batal. Dengan begitu, dia wajib mengganti puasa yang ditinggalkan ketika sudah sembuh.

Orang gila sebenarnya tidak wajib mengganti puasa yang ditinggalkannya. Namun jika penyakit tersebut kadang sembuh kadang kambuh, maka puasa yang ditinggalkan tetap harus diganti.

  • Mampu melaksanakan puasa

Seorang yang tidak mampu melaksanakan puasa boleh tidak berpuasa. Ketidakmampuan seseorang melaksanakan puasa harus disebabkan oleh alasan syara’ atau memang dia merasa tidak mampu.

Contoh alasan syara’ yang memperbolehkan seseorang tidak berpuasa adalah karena haidl atau hal-hal semacamnya. Contoh alasan tidak berpuasa karena tidak mampu adalah sakit parah yang membuatnya tidak mampu berpuasa.

Rukun Puasa Ramadhan

Secara pengertian, rukun puasa adalah cara berpuasa itu sendiri. Beberapa Kitab Fiqih menyebut rukun puasa dengan fardhu puasa.

Jumlah rukun puasa, baik itu puasa Ramadhan atau puasa lainnya, ada 4 hal. Namun begitu, dari 4 hal tersebut bisa diringkas menjadi dua hal saja. Dua hal tersebut adalah niat dan mencegah diri dari melakukan hal yang bisa membatalkan puasa.

  • Niat

Niat merupakan pekerjaan hati. Sehingga, niat bisa dilakukan dengan hanya membatin saja, tanpa diucapkan. Namun begitu, mengucapkan niat tentu lebih baik daripada hanya membatin. Sebab, dengan mengucapkan niat, niat yang dilakukan menjadi mantap dan tidak lagi meragukan.

Niat puasa harus dilakukan setiap hari, setiap akan berpuasa. Alasannya, puasa adalah ibadah yang terpisah oleh hal-hal yang membatalkan puasa. Tidak mungkin puasa hari ini disambung dengan puasa esok hari tanpa berbuka puasa. Karena alasan inilah, puasa disamakan dengan ibadah sholat, ketika akan melakukannya, maka harus niat kembali.

Niat puasa harus dilaksanakan pada malam hari, sebelum masuk waktu subuh. Itu jika puasa yang dilakukan adalah puasa fardhu semacam Puasa Ramadhan. Untuk puasa sunnah, waktu niat lebih panjang lagi. Setelah masuk waktu subuh masih boleh niat, hingga akan masuk waktu dhuhur. Bahkan ada pendapat yang mengatakan, setelah masuk waktu dhuhur, niat puasa juga masih boleh dilakukan.

  • Mencegah diri dari hal yang membatalkan puasa

Ada banyak hal yang membatalkan puasa. Hal yang paling umum dan banyak dipahami adalah tidak minum dan tidak makan; tidak melakukan persetubuhan dan tidak menyengaja muntah. Namun tentu, penjelasan untuk itu akan menjadi panjang.

Tidak makan dan tidak minum. Makan-minum sedikit atau banyak, tetap membatalkan puasa. Dalam hal ini harus ada kesengajaan melakukannya. Jika tidak sengaja makan atau tidak sengaja minum, maka puasa tidak batal. Tidak sengaja itu seperti ketika Anda lupa tengah berpuasa dan tiba-tiba Anda makan atau minum. Maka, makan atau minum yang Anda lakukan tidak serta merta membuat puasa Anda batal.

Tetapi, jika mendadak Anda ingat, maka tidak boleh Anda melanjutkan makan atau minum tersebut. Jika Anda melanjutkannya, maka seketika puasa Anda menjadi batal. Sebab, Anda sudah menyengaja karena dengan sadar dan ingat tengah puasa, Anda tetap makan atau minum.

Terkait persetubuhan, ada juga kasus lupa. Seorang lupa tengah berpuasa, lalu melakukan persetubuhan, maka puasanya tidak menjadi batal. Namun tentu sulit menemukan kejadian yang tidak lumrah seperti ini. Jika dipikir, bahkan hal ini terdengar mustahil.

Tata Cara Puasa Ramadhan

Sebenarnya, tata cara Puasa Ramadhan adalah rukun puasa itu sendiri. Dengan mengetahui rukun-rukun tersebut, maka itu sudah cukup untuk pengetahuan Anda melaksanakan puasa. Namun begitu, pada bagian ini akan tetap dibahas bagaimana cara berpuasa, dilengkapi dengan sunnah-sunnahnya.

  • Mengakhirkan makan sahur. Hal ini adalah sunnah yang dilakukan ketikan akan berpuasa. Hukumnya tidak wajib. Bahkan jika Anda tidak ingin makan sahur, itu juga boleh. Namun tentu, rasa lapar Anda selama berpuasa akan menjadi-jadi karena Anda tidak makan sahur.
  • Niat Puasa Ramadhan. Niat Puasa Ramadhan harus mencantumkan kata ‘fardhu’ untuk membedakannya dengan puasa sunnah. Niat Puasa Ramadhan juga harus dilakukan pada malam hari sebelum masuk waktu subuh. Niatnya bisa dengan lafadz:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لله تعالى

    . Nun pada kata Romadhon dibaca kasroh, seperti yang dijelaskan oleh qoul-qoul mu’tabar.

  • Mencegah diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.
  • Mencegah diri dari perbuatan buruk meski tidak membatalkan puasa. Hal ini adalah sunnah yang dianjurkan ketika berpuasa. Perbuatan buruk tersebut bisa dilakukan oleh mulut atau anggota tubuh yang lain. Karena itu, ketika seseorang tengah berpuasa dan dia melakukan perbuatan buruk, sebaiknya dia segera mengingatkan dirinya dengan mengatakan, “saya tengah berpuasa.”
  • Bersegera untuk berbuka jika sudah masuk waktu maghrib. Hal ini adalah bagian dari hal yang disunnah bagi orang yang berpuasa.

Cukup demikian ulasan tentang pengertian Puasa Ramadhan menurut para ahli, syarat, rukun, dan tata caranya. Dan semoga artikel ini bisa bermanfaat. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.