Pengertian Puasa Muharram, Hukum, Tata Cara, dan Manfaatnya

Diposting pada
Rate this post

Puasa Muharram

Muharram adalah bulan yang sangat mulia. Pasalnya, bulan tersebut adalah bulan pertama dalam kalender Tahun Hijriyyah. Tambahan lagi, ada beberapa hal yang membuat seseorang disunnahkan untuk berpuasa pada bulan tersebut. Lalu bagaimana pengertian Puasa Muharram, hukum, tata cara, dan manfaatnya? Ulasannya bisa Anda baca di bawah ini.

Puasa Muharram

Jika didefinisikan, Puasa Bulan Muharram adalah puasa sunnah yang dilakukan pada Bulan Muharram. Tentang tanggal berapa Muharram puasa amat disunnahkan, ulama masih silang pendapat. Ada salah satu pendapat yang mengatakan mulai tanggal 1 hingga tanggal 10 disunnahkan untuk berpuasa. Namun begitu, puasa yang paling banyak dilakukan adalah puasa pada tanggal satu, sembilan, dan sepuluh Muharram.

Puasa tanggal 1 Muharram biasa disebut dengan Puasa Awal Tahun. Secara, Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Tahun Hijriyyah. Puasa pada tanggal 9 Muharram lebih dikenal dengan Puasa Tasu’a, sedang puasa pada tanggal 10 Muharram dikenal dengan Puasa Asyura.

Puasa Muharram memiliki sejarah yang cukup panjang, terutama Puasa Asyura’. Puasa ini adalah puasa yang disyariatkan pada Umat Yahudi dan Umat Nasrani. Itu sebabnya, Nabi menyarankan untuk juga berpuasa pada tanggal sembilan atau Puasa Tasu’a.

Di sisi lain, Bulan Maharram sendiri adalah bagian bulan yang dimuliakan pada zaman jahiliyyah. Menyakiti orang lain, peperangan, dan segala bentuk kekerasan benar-benar dilarang demi tidak menodai kesucian Bulan Muharram.

Hukum Puasa Muharram

Jika pertanyaannya adalah bagaimana hukum Puasa Muharram, maka jawabannya adalah sunnah muakkad. Mulanya, puasa ini memang menjadi kewajiban bagi masyarakat jahiliyyah sebagai bagian dari tradisi. Dan seperti masyarakat pada umumnya, Nabi juga berpuasa pada Bulan Muharram, terutama pada Hari Asyura, demikian juga dengan para sahabat.

Namun begitu, Nabi tidak pernah mewajibkan puasa ini.  Setelah Puasa Ramadhan disyariatkan, puasa ini hanya disarankan bagi yang mau melakukannya. Hal ini seperti yang dijelaskan hadits riwayat Imam Bukhari dalam kitab shohihnya.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – . وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ قَالَ أَخْبَرَنِى عَبْدُ اللَّهِ – هُوَ ابْنُ الْمُبَارَكِ – قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِى حَفْصَةَ عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ ، فَلَمَّا فَرَضَ اللَّهُ رَمَضَانَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –

« مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ »

Puasa Muharram memiliki dalil-dalil tertentu yang menjadi dasar bagi orang yang akan ingin mengamalkannya. Dalilnya tidak hanya satu, melainkan ada beberapa. Hadits-hadits tersebut antara lain adalah:

  • Hadits dalam Shohih Bukhari. Dalam hadits tersebut, diceritakan, Nabi sangat bersemangat melaksanakan Puasa Muharram, dalam hal ini adalah Puasa Asyura. Hal itu karena Nabi mengutamakan Hari Asyura, sama seperti Nabi memuliakan Bulan Ramadhan di antara bulan-bulan yang lain. Bunyi haditsnya adalah:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى يَزِيدَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ . يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ

  • Hadits berikutnya adalah hadits yang juga diambil dari Shohih Bukhari. Hadits tersebut menceritakan ketika Nabi melihat orang Yahudi berpuasa Asyura. Saat itu Nabi menanyakannya pada sahabat.

Sahabat menjelaskan bahwa orang Yahudi berpuasa pada hari itu karena Hari Asyura adalah hari yang baik. Hari itu Allah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Firaun dan menenggelamkannya. Nabi Musa bersyukur atas itu dan Beliau berpuasa sebagai wujud rasa syukur. Mendengar cerita itu, Nabi pun ikut berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Bunyi haditsnya adalah:

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ ، فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِى إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ ، فَصَامَهُ مُوسَى . قَالَ « فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

  • Hadits berikurnya adalah hadits yang diambil dari Shohih Muslim. Hadits yang berkaitan hal ini menjelaskan perintah Nabi berpuasa Tasu’a. Puasa ini untuk membedakan Puasa Asyura orang Islam dengan Puasa Asyura orang Yahudi dan Nasrani.

وَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِىٍّ الْحُلْوَانِىُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى مَرْيَمَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنِى إِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا غَطَفَانَ بْنَ طَرِيفٍ الْمُرِّىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَقُولُ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Tata Cara Puasa Muharram

Tidak ada cara-cara khusus untuk berpuasa di Bulan Muharram. Puasa Muharram dilakukan dengan cara seperti puasa pada umumnya. Hanya niatnya saja yang berbeda, ditambah sedikit hal sebagai catatan atau saran.

  • Lakukan puasa pada tanggal 9,10,11. Hal ini adalah yang paling disarankan jika ingin berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
  • Jika tidak, lakukan puasa pada tanggal 9 dan 10 saja. Tanggal sepuluh untuk Puasa Asyura, sedang tanggal 9 untuk Puasa Tasu’a.
  • Jika merasa berat, maka boleh hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja. Sebab hari tersebut memiliki banyak keutamaan sebagaimana yang banyak disebutkan oleh para ulama.
  • Jika Hari Asyura terlewat, maka pastikan Anda berpuasa di hari mana pun di dalam Bulan Muharram. Bisa mengambil Hari Senin atau Hari Kamis. Atau mengambil Ayyamul Baid pada tanggal 13, 14, 15. Atau bisa juga berpuasa pada tanggal 1 Muharram sebagai hari pertama di Tahun Hijriyyah.

Niat Puasa Muharram, niat Puasa Awal Tahun, niat Puasa Tasu’a, niat Puasa Asyura, berturut-turut adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ يَوْمِ شَهْرِ الْحَرَام سُنَّةً لله تعالى

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ اَوَّلِ السَّنَةِ سُنَّةً لله تعالى

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ تَاسُوعَاءَ سُنَّةً لله تعالى

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لله تعالى

Manfaat Puasa Muharram

Manfaat Puasa Muharram sama dengan manfaat puasa pada umumnya, baik bagi kesehatan jasmani atau kesehatan rohani. Namun tentang fadlilah atau keutamaannya, tentu berbeda dengan puasa-puasa yang lain. Beberapa fadlilah Puasa Muharram disebutkan di dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin dan Kitab Irsyadul Ibad. Namun ada juga yang berasal dari Shohih Muslim.

  • Puasa Muharram adalah puasa yang diutamakan setelah Puasa Ramadhan. Alasannya, bulan itu merupakan awal tahun. Berbuat kebaikan di awal tahun akan menjadi pondasi kebaikan yang bisa diharapkan barokahnya hingga penghujung tahun. Haditsnya adalah sebagai berikut:

أفضل الصيام بعد شهر رمضان شهر الله المحرم

  • Sehari saja berpuasa pada Bulan Muharram, lebih baik dan lebih utama daripada puasa tiga puluh hari pada selain Bulan Muharram. Bunyi haditsnya adalah sebagai berikut:

صوم يوم من شهر حرام أفضل من ثلاثين من غيره وصوم يوم من رمضان أفضل من ثلاثين من شهر حرام

  • Puasa Asyura menghapus dosa satu tahun yang sudah dilewati. Keterangan hadits ini bersama dengan keterangan fadlilah Puasa Arafah dan keterangan tentang puasa-puasa yang lain. Haditsnya cukup panjang. Hadits berikut adalah hadits yang sudah dipotong, dekat dengan keterangan tentang Puasa Asyura.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ – الى – قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ ». وَفِى هَذَا الْحَدِيثِ مِنْ رِوَايَةِ شُعْبَةَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَسَكَتْنَا عَنْ ذِكْرِ الْخَمِيسِ لَمَّا نَرَاهُ وَهْمًا.

Cukup lengkap bukan, ulasan pengertian Puasa Muharram, hukum, tata cara, dan manfaatnya ini? Dengan begitu, semoga ulasannya bisa memberi manfaat lebih kepada Anda. Terima kasih sudah membaca. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *