Pengertian Tawadhu, Hukum, Ciri, dan Contohnya

Pengertian Tawadhu, Hukum, Ciri, dan Contohnya

Rate this post

Tawadhu Adalah

Pada pembahasan kali ini, kami akan mencoba menguraikan tentang pengertian tawadhu, hukum, ciri, dan contohnya. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk menambah wawasan tentang ilmu akhlak yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Dimana pembahasan ini bersumber dari Al-Qur’an, Hadist dan pendapat para ulama salafushalih.

Pengertian Tawadhu

Tawadhu adalah meletakkan diri pada posisi sebagai hamba. Melepaskan diri dari sifat angkuh dan takabbur. Menghinakan diri dalam kebenaran. Dan tidak mengangkat diri atas kemuliannya, sehingga menjadi angkuh dan sombong.

Hal ini berlandasakan bahwa secara etimologi atau bahasa, kata tawadhu berasal dari bahasa Arab dengan asal kata وضع (wadha’a) yang memiliki banyak arti yang berbeda-beda. Di antaranya yaitu meletakkan, melepaskan, dan menghinakan. Kemudian, dalam Lisanul Arab وضع (wadha’a) lawan katanya adalah رفع (rafa’a) yang artinya mengangkat.

Sedangkan secara istilah, pengertian tawadhu banyak pula perbedaan maknanya. Seperti, tawadhu adalah menghadirkan kerendahan hati pada sesuatu hal yang diagungkannya.  Tawadhu adalah tindakan berupa merasa diri paling rendah dan mengakui kemuliaan serta menerima kebenaran pada orang  lain.

Tawadhu diartikan rendah hati, yaitu dilihat dari pengertiannya secara terminologi. Rendah hati adalah lawan dari sifat sombong. Jadi, orang yang memiliki sifat tawadhu menurut pendapat Imam Al-Gozali adalah “Dia yang mengeluarkan kedudukannya dan menganggap orang lain lebih utama dari padanya”. Ihya Ulumudin, jilid III.

Menurut pendapat Syekh Ahmad Ibnu Atha’illah dalam kitabnya Al-hikam, mengatakan:

٭ المُتواضعُ الحقيقيُّ هُوَ ماكانَ ناَشِـءـاً عن شهود عظمةِ وَتجلّىِ صِفتهِ ٭

  1. Tawadhu yang sejati (hakiki) ialah rasa rendah diri yang timbul karena melihat/memperhatikan keagungan Alloh dan terbukanya sifat-sifat Allah (pada makhluk-Nya).” Ketika seseorang melihat keagungan Allah, maka hilanglah sifat-sifat nafsunya.

Kemudian, dalam mutiara hikmah sebelumnya, yaitu hikmah ke 251, beliau juga menyinggung tentang sifat-sifat tawadhu pada diri seorang mukmin.

٭ ليس المتواضعُ الذي اذاَ تواضع رى اَنهُ فوقَ ما صنعَ ولٰكن َّ المُتواضعُ اذاَ تواضع  رى اَنهُ دونَ ما صنعَ ٭ 251

Intinya, seseorang yang sudah merasa bisa tawadhu tidak boleh merasa paling tinggi derajatnya, karena orang tawadhu itu selalu menganggap dirinya lebih rendah, meskipun hakikatnya ia benar-benar lebih baik dari orang lain.

Dari beberapa pengertian tawadhu di atas, kita sebagai mukmin sejati haruslah senantiasa memiliki sifat tawadhu seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Pasalnya, Rasulullah SAW itu memiliki sifat atau perasaan malu yang amat besar dan tawadhu dalam kehidupan sehari-harinya.

Hal tersebut diungkap dalam kitab Maulid Al-barzanji, halaman 123, karangan As-Sayyid Ja’far bin Hasan Al-Barzanji.

Bahkan, salah seorang waliyullah sudah lebih dulu mempraktikan sifat tawadhu ini. Beliau adalah Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aydrus Al-Adny, beliau mengatakan “ Jika engkau mencium tanganku, sama dengan menampar wajahku dan jika engkau sampai mencium kakiku, berarti engkau sudah mencongkel mataku.”

Beliau juga berkata “Andai saja aku tidak mengenal dan dikenal seorangpun dan Andai saja aku ini tidak dilahirkan.”

Bayangkan, begitu thawadu-nya beliau dihadapan sesamanya. Perkataan tersebut memberi arti bahwa beliau sungguh merasa dirinya hina dihadapan Allah, sangat rendah hati, dan tidak pantas untuk disanjung dan dihormati. Padahal beliau adalah seorang ‘Ulama karismatik dan juga sebagai waliyulloh yang telah banyak diberi limpahan karamah oleh Allah SWT.

Hukum Tawadhu

Memang tidak ada dalil khusus di dalam Al-Qur’an yang mewajibkan seorang mukmin harus memiliki sifat tawadhu. Akan tetapi, beberapa kata yang terkandung di dalam Al-Qur’an yang menyinggung tentang tawadhu memiliki arti dan maksud yang sama.

Mengindikasikan, bahwa kita harus memiliki sifat tawadhu tersebut. Seperti halnya kata rendah hati, rendah diri, rendahkanlah, tidak sombong, lemah lembut, dan lain-lain.

Berikut ini adalah firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan tawadhu.

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا

Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al-Furqan Ayat: 63).

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ (الشعراء: 215)

Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Qs. asy-Syu’araa’: 215)

Berikut ini adalah hadist Nabi Muhammad SAW yang mengharuskan ummatnya untuk memiliki sifat tawadhu.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر

Artinya: Dari Nabi SAW berkata, “Tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar zarrah”. (HR. Muslim, no. 33 juz 1)

أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَد

Artinya: “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorangpun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorangpun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR.Muslim no. 2865).

Berdasarkan beberapa dalil di atas dapat kita simpulkan bahwa hukum seseorang memiliki sifat tawadhu bisa dikatakan amat penting, karena dengan tawadhu itulah derajat mukmin sejati akan ditinggikan oleh Allah SWT.

قَالَ النَّبِيُّ: مَا تَوَاضَعَ رَجُلٌ للهِ اِلَّا رَفَعَهُ اللهُ (تنبيه الغافلين، ص 67)

Nabi SAW berkata: “Tidaklah tawadhu seorang laki-laki kepada Allah SWT., kecuali Allah SWT mengangkat derajatnya.”

Ciri Tawadhu

Salah satunya yang memiliki ciri-ciri dari sifat tawadhu, tidak lain yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau seorang Nabi sekaligus Rasul yang masih (mau) menjahit pakaiannya, memperbaiki sandalnya, memeras susu kambing-kambingnya, dan mengurusi keluarganya dengan baik. Bahkan beliau, meskipun terkenal sebagai penglima perang, tetap saja selalu menyapa dengan ucapan “salam” pada setiap anak-anak yang ditemuinya. Subhaanallah!

Bisakah kita meniru ketawadhuan beliau? Janganlah seorang mukmin berkecil hati untuk bisa tawadhu seperti Nabi SAW. Mintalah kepada Allah SWT agar diberikan sifat tawadhu dan berusahalah dengan keras, mulai saat ini dan dari hal yang terkecil.

Setelah seorang mungkin berusaha menghadirkan sifat tawadhu, kira-kira apa saja tanda-tandanya?

Menurut Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad di dalam kitabnya yang berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah, halaman 148-149, menjelaskan tanda-tanda orang tawadhu’ sebagai berikut:

فمن أمارات التواضع حبُّ الخمول وكراهية الشهرة وقبول الحق ممن جاء به من شريف أو وضيع. ومنها محبة الفقراء ومخالطتهم ومجالستهم. ومنها كمال القيام بحقوق الإخوان حسب الإمكان مع شكر من قام منهم بحقه وعذرمن قصَّر.

Tanda-tanda seorang mukmin yang tawadhu adalah:

  • Lebih senag tidak dikenal daripada menjadi orang terkenal
  • Bersedia menerima kebenaran dari siapapun, baik dari kalangan orang terpandang maupun yang rendah kedudukannya
  • Mencintai fakir miskin dan senang duduk dengan mereka
  • Bersedia mementingkan urusan orang lain dengan sebaik mungkin
  • Berterima kasih pada orang-orang yang telah berbuat baik padanya dan memaafkan orang-orang yang berbuat buruk kepadanya

Contoh Tawadhu

Selain Rasulullah SAW, banyak pula para Sahabat beliau, termasuk tabi’in, dan para ‘Ulama salafushalih yang menjadi contoh sebagai pribadi yang memiliki sifat tawadhu.

Sikap Tawadhu Sayyidina Abu Bakar As-shiddiq

Pada saat beliau diangkat menjadi khalifah, kerendahan hatinya semakin dikenal. Beliau biasa mengunjungi rumah para janda dan memerahkan susu domba mereka, kemudian beliau juga biasa mengunjungi rumah anak-anak yatim untuk memasak makanan bagi mereka.

Sikap Tawadhu Umar bin Abdul Aziz Ra

Pada saat itu Umar bin Abdul Aziz Ra meminta kepada seorang pelayan untuk mengipasinya, kebetulaan pada hari itu sangat panas sekali. Pelayan tersebut bahkan sampai ketiduran dengan wajahnya yang merah dan berkeringat. Lalu, sang khalifah mengambil kipasnya dan mulai mengipasi pelayan tersebut.

Saat pelayan itu bangun, ia terkejut dan sangat malu. Umar bin Abdul Aziz Ra berkata: “Kamu juga manusia, pasti merasakan kepanasan seperti aku dan aku ingin mengipasimu seperti yang kamu lakukan kepadaku”.

Demikian yang bisa kami sampaikan tentang materi pengertian tawadhu, hukum, ciri, dan contoh sikapnya. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi hikmah bagi kita agar senantiasa bisa menjadi hamba Allah SWT yang memiliki sifat tawadhu.

Tinggalkan komentar

Shares