Pengertian Wudhu, Penyebab, Syarat, Rukun, dan Tata Caranya

Posted on

Wudhu Adalah

Wudhu adalah bagian penting sebelum melakukan ibadah. Mengapa? Karena Wudhu adalah salah satu cara bersuci yang wajib dilakukan sebelum melaksanakan Sholat dan beberapa ibadah sunnah yang lain. Itu sebabnya, mengetahui definisi wudhu menjadi penting.

Wudhu

Secara bahasa Wudhu berasal dari kata wudho-a. Artinya adalah bersih, baik, atau murni. Namun, jika didefinisikan secara Fiqih, Wudhu adalah menggunakan air pada anggota tubuh tertentu dan dibuka dengan niat. Pengertian ini dirasa cukup tanpa perlu ditambah apapun atau lebih dipanjangkan lagi.

Penyebab Wudhu

Wudhu adalah bagian dari bersuci. Bersuci sendiri ada yang dinamakan Mandi, Mensucikan Najis, juga Istinjak. Masing-masing cara bersuci tersebut memiliki penyebab berbeda-beda. Dalam mandi wajib, misalnya, penyebabnya adalah keluar mani atau karena baru suci dari Haid. Istinjak, misalnya, merupakan cara bersuci dengan objek kelamin dan dubur. Tentu saja, penyebabnya adalah keluarnya sesuatu dari dua hal tersebut.

Lalu bagaimana dengan Wudhu? Ada beberapa hal yang menjadi penyebab Wudhu. Semua penyebab tersebut dinamakan hadats kecil. Dan hal-hal yang termasuk hadats kecil adalah:

  • Ada sesuatu yang keluar dari alat kelamin atau dubur. Bisa berupa air, bisa berupa kotoran, bisa berupa darah, atau sesuatu yang tidak lumrah berupa batu atau biji-bijian yang pernah dimakan dan tidak tercerna dengan baik.
  • Tidur dengan tidak menempelkan dubur ke alas duduk. Tidur yang dimaksud di sini adalah tidur yang sebenar-benarnya, bukan mengantuk. Tidur dan mengantuk biasa dibedakan dengan mimpi. Tidur ditandai dengan mimpi. Mengantuk biasanya masih bisa mendengar perkataan orang-orang sekitar. Jika ragu apakah hanya mengantuk atau sudah tidur, maka tidak perlu berwudhu.
  • Hilang akal. Penyebabnya bukan karena tidur, melainkan karena mabuk, sakit, gila, pingsan, atau hal lain semacamnya.
  • Bersentuhan kulit antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim, yang tidak ada halangan apapun antara dua kulit tersebut. Pengecualian dari kulit adalah rambut, kuku, dan gigi. Maka jika ada seorang lelaki menyentuh rambut, kuku, atau gigi seorang perempuan, wudhunya tidak akan batal.
  • Menyentuh alat kelamin manusia menggunakan bagian dalam telapak tangan. Tidak terkecuali apakah kelamin yang disentuh adalah miliknya sendiri atau milik orang lain, Wudhu tetap batal.
  • Menyentuh bibir anus.

Syarat Wudhu

Jika kebetulan Anda melihat kitab-kitab yang membahas tentang Wudhu, mungkin Anda tidak akan menemukan pembahasan tentang syarat wudhu. Sebab, biasanya pokok pembahasan hanya berkisar  pada rukun, sesuatu yang membatalkan Wudhu, serta sunnah-sunnah yang ada di dalam Wudhu.

Meski begitu, sebenarnya ada juga hal yang harus dilakukan atau dipersiapkan sebelum melakukan Wudhu. Apa saja itu?

  1. Menggunakan air yang suci mensucikan

Syarat untuk bersuci adalah menggunakan air yang suci mensucikan. Sebab, jenis air terbagi menjadi empat: air suci mensucikan, air suci mensucikan tetapi makruh digunakan, air suci tetapi tidak boleh dipakai untuk bersuci, air najis.

  • Air suci mensucikan merupakan Air Mutlak. Jika diambil pengertian, Air Mutlak adalah air yang namanya bisa berubah sesuai dengan tempatnya. Misal ditempatkan di dalam gelas, airnya akan berubah nama menjadi air gelas. Misal ditempatkan di dalam kendi, airnya akan berubah nama menjadi air kendi. Termasuk bagian dari air mutlak itu adalah air sumur, air hujan, air sungai, air sumber, air laut, air salju, dan air embun.
  • Air suci mensucikan tetapi makruh digunakan. Air yang tergolong suci mensucikan namun makruh untuk digunakan adalah Air Musyammas. Air ini adalah air yang menjadi panas karena tertempat matahari. Biasanya ditempatkan pada tempat berbahan logam yang terkena terik matahari. Air Musyammas masih bisa digunakan bersuci, namun makruh.
  • Air suci tetapi tidak boleh dipakai untuk bersuci. Air ini adalah Air Musta’mal, dihukumi suci, tidak najis, tetapi tidak bisa digunakan untuk bersuci. Pengertian Air Musta’mal sendiri adalah air yang sudah digunakan bersuci. Jika air ini dikumpulkan dan jumlahnya lebih dari 216 liter, maka Air Musta’mal berubah menjadi air suci mensucikan dan bisa digunakan bersuci.
  • Air najis merupakan air yang kurang dari 216 liter dan kemasukan najis. Atau, bisa jadi air yang lebih dari 216 liter, kemasukan najis, dan warna atau bau air berubah.

Jadi, kesimpulannya adalah, air yang bisa digunakan untuk bersuci adalah Air Mutlak atau Air Musyammas. Hanya saja, Air Musyammas makruh untuk digunakan bersuci kerena mengandung efek kurang baik.

  1. Menghilangkan sesuatu yang menghalangi sampainya air ke permukaan anggota Wudhu

Syarat lain untuk Wudhu adalah anggota Wudhu bersih dari sesuatu yang menghalangi sampainya air pada permukaan kulit. Yang dimaksud dengan anggota Wudhu di sini adalah setiap bagian tubuh yang harus dibasuh atau diusap saat berwudhu.

Itulah mengapa, ketika Anda baru selesai mengecat atau mengelem sesuatu misalnya, pastikan tidak ada ceceran cat atau lem yang menutupi bagian tubuh Anda. Sebab, ceceran cat atau lem tersebut akan menutupi kulit Anda.

Lalu bagaimana jika itu adalah coretan tinta atau hal semacamnya? Apakah juga menghalangi air? Cara membedakan apakah sesuatu tersebut menghalangi atau tidak adalah dengan mengkerik. Jika terdapat kerak ketika Anda mengkerik, maka sesuatu tersebut harus dihilangkan.

Rukun Wudhu

Bilangan seluruh rukun Wudhu adalah enam. Enam tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

Niat bersama basuhan pertama

Niat Wudhu tidak perlu diucapkan. Namun, tidak masalah kalau memang diucapkan. Sebab ucapan akan menuntun hati untuk membaca niat. Niat Wudhu yang lumrah digunakan adalah:

نَوَيْتُ الْوُضُوءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَصْغَرِ فَرْضًا لله تعالى

Membasuh Wajah

Batas wajah atas adalah bagian yang ditumbuhi rambut kepala. batas bawah adalah ujung dagu. Batas tepi adalah dua daun telinga. Karena itu, pastikan seluruh wajah terbasuh ketika Wudhu. Biasanya bagian pipi yang sudah dekat dengan telinga yang sering tertinggal.

Membasuh kedua tangan hingga siku

Yang menjadi catatan pada rukun Wudhu ini adalah seluruh siku harus ikut basah. Atau dengan kata lain, batas basuhan harus di atas siku. Jadi, perhatikan ini betul, agar bagian siku tidak ketinggalan ikut dibasuh. Dan jika pertanyaannya seseorang tidak memiliki tangan, maka tangan yang dibasuh adalah sepanjang kira-kira panjang tangan seseorang saat utuh.

Mengusap sebagian kepala

Dalam mengusap kepala disini bisa saja dilakukan dengan mengusap sebagian rambut di kepala yang masih dalam batas kepala. Artinya, jika rambut ditarik, bagian tersebut tidak akan keluar dari batas lingkaran kepala. Tidak perlu sampai mengusap dan mengoyak kepala, cukup dengan meletakkan tangan yang telah basah di kepala, juga sudah cukup.

Membasuh kaki hingga mata kaki

Dalam ini, ada pembahasan yang menarik terkait membasuh kaki. Sebab, ada pembahasan tentang khuffain atau sepatu khusus padang pasir. Pembahasannya tentu akan panjang, namun bukan pada artikel ini.

Tertib

Tertib adalah mengerjakan pekerjaan sesuai urutannya. Dengan begitu, Anda benar-benar harus hafal urutan rukun Wudhu secara benar, tidak boleh dibalik-balik. Sebab, Wudhu menjadi tidak sah jika sampai rukun-rukunnya dilakukan secara terbalik.

Tambahan, mungkin Anda bingung cara membedakan antara membasuh dan mengusap. Secara, di dalam Wudhu, terdapat anggota yang dibasuh, ada juga yang cukup dengan diusap. Perbedaan antara membasuh dan mengusap terletak pada airnya. Maksudnya, pada membasuh air akan terlihat mengalir, sedang pada mengusap, air tidak sampai mengalir, tetapi cukup membuat anggota tubuh menjadi basah.

Tata Cara Wudhu

Sebenarnya, tata cara Wudhu adalah melakukan apa yang menjadi rukun Wudhu. Kalau pun ada sesuatu yang ditambahkan, maka itu disebut sebagai sunnah Wudhu. Terdapat beberapa sunnah yang bisa dilakukan ketika berwudhu. Sunnah-sunnah tersebut adalah:

  • Secara umum, sunnah Wudhu ada sepuluh. Seluruhnya adalah:
  • Membaca basmalah sebelum berwudhu.
  • Membasuh telapak tangan sebelum mulai mengambil air Wudhu atau memasukkannya ke dalam bak mandi.
  • Berkumur bersamaan dengan menghisap air lewat hidung, sebelum berwudhu
  • Mengusap seluruh kepala ketika sampai pada rukun Wudhu mengusap sebagian kepala
  • Mengusap dua daun telinga, luar dan dalam dengan air yang baru. Sunnah ini dilakukan setelah mengusap kepala, sebelum membasuh kaki.
  • Menyela jenggot yang lebat setelah membasuh wajah.
  • Menyela jemari tangan dan kaki ketika tengah membasuh keduanya.

Demikian serangkaian penjelasan dan pembahasan secara lengkap tentang pengertian wudhu, penyebab, syarat, rukun, dan tata cara untuk melakukannya, semoga melalui artikel ini dapat memberikan referensi serta bisa bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *