Pengertian Tawakal, Hukum, Manfaat, dan Contohnya

Posted on

Tawakal Adalah

Dalam satu nasihat yang selalu diucapkan orangtua ketika anaknya tengah berusaha keras menghadapi sesuatu, seringkali disisipi kata tawakkal. Tawakkal memang ampuh untuk menghadapi beragam bentuk tantangan dan rintangan. Lalu apa sebenarnya definisitawakal tersebut? Berikut Anda bisa simak ulasannya.

Tawakal

Tawakal tidak bisa dibentuk begitu saja. tawakkal adalah inti sari sebuah proses yang cukup panjang. Munculnya tawakkal berasal dari ilmu atau pengetahuan. Dari pengetahuan itu, lantas akan muncul hal atau satu sikap. Sikap ini yang kemudian disebut sebagai tawakkal. Dari tawakkal itu barulah muncul amal atau bentuk nyata.

Jika diibaratkan, ilmu itu adalah pohon. Tawakkal adalah lingkungan atau keadaan di sekitar pohon tersebut, sedang amal adalah buah dari pohon. Hal semacam ini memang saling berkaitan. Dan dalam tawakkal sendiri, ilmu yang dimaksud adalah ilmu tauhid atau iman. Sehingga, jika diambil kesimpulan, derajat tawakal seseorang akan berbanding lurus dengan derajat keimanan seseorang.

Pengertian Tawakal

Secara bahasa, tawakal memiliki bentuk mujarod wakala. Kata wakala tersusun dari huruf wawu, huruf kaf, dan huruf lam, artinya mewakilkan atau menyerahkan. Wakala bisa juga diartikan dengan pasrah. Jadi, ketika ada orang mengatakan wakala amrohu ila fulan (وكل امره الى فلان), maksudnya adalah seseorang telah memasrahkan urusannya pada Fulan.

Dalam contoh di atas, seseorang yang menyerahkan urusannya disebut mutawakkil. Sedang si Fulan disebut dengan wakil. Tentu saja, dengan menyerahkan urusannya, mutawakkil sudah lebih dulu meyakini bahwa Fulan mampu menyelesaikan urusannya. Inilah yang kemudian disebut dengan tawakal.

Lantas, apa sebenarnya maksud tawakkal secara definisi? Setiap ulama berbeda cara dalam menjelaskan istilah tawakkal. Namun, perbedaan cara tersebut tetap memiliki muara yang sama, yakni kepasrahan. Imam Ghozali sendiri mendefinisikan tawakkal dengan:

فالتوكل عبارة عن اعتماد القلب وعلى الوكيل وحده

Bagaimana maksudnya? Tawakkal adalah suatu istilah untuk kemantapan hati atas orang yang menjadi wakil. Siapa yang menjadi wakil? Dalam ulasan tawakkal, tentu saja wakil adalah Allah. Dengan demikian, keyakinan atau kemantapan hati kepada Allah semata itulah yang disebut dengan tawakkal.

Maka tidak heran jika tawakkal disandingkan dengan tingkat keimanan seperti yang juga sudah ditulis di bagian atas ulasan ini. Sebab, kembali lagi ke awal, muasal tawakkal adalah ilmu. Ilmu tersebut diterjemahkan menjadi iman atau ma’rifat billah.

Kesalahan Memahami Tawakal

Beberapa orang mungkin memahami tawakkal dalam hal rizki dengan tidak bekerja sama sekali. Padahal bekerja adalah hal yang dianjurkan oleh syariat, sedang meninggalkan syariat adalah haram. Tentu saja, tawakkal dengan meninggalkan syariat tidak diperbolehkan.

Karena itu, salah jika memahami tawakal adalah tidak bekerja. Orang yang tawakal tetap bekerja, sedang sikap tawakalnya menjadi warna yang tercermin dari sikapnya untuk mencapai tujuan.

Dalil Quran untuk Tawakal

Dalam Quran atau pun hadits, cukup banyak perintah untuk tawakkal. Beberapa ada yang sifatnya perintah, beberapa lagi ada yang sifatnya targhib atau umpan agar tertarik menjadi pribadi yang tawakkal.

  • Ayat 23 Surat al Maidah. Ayat tersebut mengandung perintah untuk tawakkal kepada Allah bagi orang-orang mukmin. Bunyi ayatnya adalah:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

 [المائدة/23]

  • Ayat 159 Surat Ali Imran. Ayat tersebut juga berisi perintah untuk tawakkal. Disertai pula targhib bagi orang-orang yang bertawakkal.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 [آل عمران/159]

  • Ayat 3 Surat at Thalaq. Ayat tersebut menjadi targhib bagi orang yang tawakkal. Disebutkan, orang yang tawakkal akan dicukupi kebutuhannya oleh Allah.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

 [الطلاق/3]

Dalil Hadits untuk Tawakkal

Membahas tawakalmemang perlu menyertakan dalil hadits untuk memperkuat. Salah satu hadits yang berkaitan dengan tawakkal adalah:

فقد قال صلى الله عليه وسلم فيما رواه ابن مسعود: ” أريت الأمم في الموسم فرأيت أمتي قد ملأوا السهل والجبل فأعجبتني كثرتهم وهيأتهم، فقيل لي: أرضيت؟ قلت: نعم، قيل: ومع هؤلاء سبعون ألفاً يدخلون الجنة بغير حساب ” قيل: من هم يا رسول الله، قال: ” الذين لا يكتوون ولا يتطيرون ولا يسترقون وعلى ربهم يتوكلون ” فقام عكاشة وقال: يا رسول الله ادع الله أن يجعلني منهم، فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: ” اللهم اجعله منهم ” فقال آخر فقال: يا رسول الله، ادع الله أن يجعلني منهم، فقال صلى الله عليه وآله وسلم: ” سبقك بها عكاشة ” .

Lewat hadist yang diambil dari Kitab Ihya’ Ulumiddin tersebut, Nabi menyampaikan bahwa ada kelompok yang masuk surga tanpa hisab. Karena itu, para sahabat bertanya, siapakah kelompok tersebut. Nabi lantas menjawab mereka adalah orang yang bertawakkal kepada Allah.

Hukum Tawakal

Hukum pasti terkait tawakkal memang tidak dijelaskan secara terang oleh kitab yang membahas tentang tasawwuf atau pun kitab Fiqih. Pasalnya, tawakkal adalah bagian yang terkait dengan hati. Seseorang tidak bisa serta merta menjadi orang yang tawakkal walaupun dia ingin menjadi orang yang tawakkal sekalipun. Proses seseorang menjadi tawakkal adalah proses panjang yang tidak bisa ditentukan.

Mengapa? Sebab, tawakkal berkaitan dengan iman. Dan iman seseorang tidak mudah untuk ditakar. Seseorang bahkan tidak bisa menilai keimanan orang lain dari laku yang tampak. Islam juga tidak memberi hukum tertentu yang berkaitan dengan iman. Sebaliknya, Islam memberi hukum pada sesuatu yang tampak di luar.

Orang yang sudah masuk Islam dengan bersyahadat harus menjalankan syariat. Tetapi Islam tidak pernah memberi hukum tertentu untuk memiliki kadar iman tertentu agar masuk Islam. Karena itu, masalah tawakkal dan masalah Iman tidak mendapat penjelasan hukum yang terang.

Jika pun Anda misalnya, membaca kitab-kitab tasawuf atau pun tauhid, yang ada adalah penjelasan tentang ciri tawakkal dan bentuk tawakkal. Disinggung pula tentang keutamaan orang yang tawakkal. Tapi hukum orang yang tidak tawakkal, tidak akan dibahas di sana.

Manfaat Tawakal

Berikut ini merupakan manfaat tawakal yang disertai dengan Quran atau pun hadits. Manfaat tawakal mungkin tidak dipaparkan secara lebar. Tetapi, pada intinya, manfaat tawakal sama dengan manfaat iman. Iman adalah ruh seseorang dalam menjalankan agama yang dianutnya.

Masuk Surga tanpa Hisab

Ini seperti bunyi hadits yang sudah ditulis di bagian atas, bahwa orang yang bertawakal adalah kelompok orang yang akan masuk surga tanpa hisab. Oleh sebab itu, golongan orang tawakal adalah termasuk golongan orang yang istimewa di mata Allah.

Orang yang Tawakal akan Selalu Mendapat Rizki Allah

وقال صلى الله تعالى عليه وسلم: ” لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصاً وتروح بطاناً

Hadits tersebut merupakan salah satu hadits yang diambil dari Ihya’ Ulumiddin. Maksud hadits tersebut adalah, siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberikan rizki padanya sebagaimana Allah memberikan rizki pada burung-burung.

Dikuatkan Hatinya dari Godaan Syaitan

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

 [النحل/99]

Ayat 99 dari Surat an Nahl tersebut menyebut bahwa orang yang tawakkal kepada Allah adalah orang sulit ditaklukkan oleh Syaitan. Bahkan disebutkan, tidak ada syaitan sama sekali bagi orang-orang yang bertawakal kepada Allah.

Contoh Tawakal

Ini untuk contoh sekaligus adab bagi seorang yang menjaga harta bendanya. Sebab, menjaga harta dan bertawakkal adalah hal yang saling berkaitan. Tawakkal bukan artinya pasrah tanpa melakukan suatu hal. Cermati penjelasan yang berikut ini:

  1. Mengunci pintu rumah. Tidak pun dengan gembok atau kunci pintu pada umumnya, membeli tali dan melakukan sesuatu agar rumah menjadi aman amat penting dilakukan.
  2. Tidak menyimpan barang yang secara umum menarik seseorang untuk mencurinya. Jika memang perlu, titipkan pada orang lain yang bisa dipercaya, jika itu memungkinkan. Hal ini adalah bagian adab dari orang yang bertawakkal kepada Allah.
  3. Berniat keluar rumah dengan ridho atas apa yang nanti terjadi. Sebab biarpun seseorang telah berusaha dengan sebaik mungkin, kepastian Allah tetap lah yang akan terjadi.
  4. Niatkan dalam hati, jika barang itu tetap dicuri, berarti itu menjadi halal bagi pencuri itu. Jika pencuri itu orang miskin, semoga itu menjadi sedekah. Niat semacam itu tentu lebih baik ketika tengah menerima hal yang tidak diinginkan.

Demikian ulasan secara lengkap yang bisa kami bagikan terkait dengan pengertian tawakal, hukum, manfaat, dan contohnya yang ada dalam kehidupan sehati-hari. Semoga melalui materi ini bisa memberikan bermanfaat kepada segenap pembaca sekalian. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *