Pengertian Istighfar, Dasar Hukum, Macam, dan Keutamaannya

Posted on

Istighfar Adalah

Tentu saja Anda sudah tidak asing dengan istighfar. Bukan hanya karena kalimat ini sering disebut orang ketika seseorang atau bahkan orang tersebut melakukan kesalahan, tetapi juga karena ini adalah bacaan wirid yang baik untuk diamalkan dalam kehidupan.

Istighfar

Istighfar berasal dari kata ghofaro. Ghofaro sendiri memiliki arti ampunan atau mengampuni. Ghofaro lalu diikutkan wazan istaf’ala, kemudian artinya pun berubah menjadi minta ampunan. Dari sini saja tentu sudah menjadi jelas apa maksud dari kata istighfar.

Meski istighfar berarti meminta pengampunan, istighfar tidak melulu diucapkan setelah melakukan kesalahan. Tidak, melainkan setiap waktu pun disunnahkan untuk mengucapkan istighfar dalam banyak keadaan, selain juga sebagai doa. Sebab, ada salah satu pendapat yang menyebut istighfar adalah istibdal atau meminta ganti.

Meminta ganti apa maksudnya? Meminta hal-hal yang terasa sulit agar dipermudah. Atau, meminta hal-hal yang terasa sempit agar dilapangkan. Atau, meminta hal-hal yang kurang baik diganti dengan yang lebih baik. Atau, meminta hal yang rendah agar diganti dengan hal yang lebih mulia.

Lain itu ada juga yang mengartikan istighfar dengan permintaan untuk mengubah. Apa yang diubah? Yang sempit diubah dengan lapang. Yang buruk diubah dengan yang baik, atau hal-hal semacamnya. Tinggal dikiaskan saja dengan contoh yang ada pada makna istighfar sebagai ‘meminta ganti’.

Karena makna dan arti semacam itulah, istighfar tidak hanya diucapkan setelah melakukan dosa, seperti yang sudah ditulis di atas. Lebih dari itu, makna istighfar lebih pada bagaimana seorang hamba bisa lebih dekat dengan tuhannya. Dan sebab itulah, istighfar merupakan salah satu wirid yang sering dibaca setiap waktu, bahkan dianjurkan.

Dasar Hukum Istighfar

Ada cukup banyak dalil yang berkaitan dengan istighfar, baik dalam hadits atau dalam al Quran. Di dalam al Quran sendiri, ada dalil yang merujuk pada perintah, ada yang merujuk pada pujian untuk orang yang beristighfar. Tambahan juga ada yang bentuknya penjelasan atau contoh.

Salah satu dalil al Quran yang bentuknya perintah istighfar adalah seperti pada Surat al Baqarah, khususnya pada ayat 199. Atau seperti yang ada pada Surat Hud ayat 3. Bunyi dua ayat tersebut adalah:

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 [البقرة/199]

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

 [هود/3]

Lalu bagaimana dengan hadits? Apa salah satu hadits yang bisa menjadi dasar istighfar? Salah satu hadits yang bisa dijadikan dasar untuk istighfar adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shohihnya. Bunyi hadits tersebut adalah:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –

 يَقُولُ « وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Lantas bagaimana dengan hukum istighfar? Inilah yang menarik. Istighfar merupakan hal yang sunnah untuk dilakukan. Namun begitu, hukum istighfar bisa juga berubah wajib atau bahkan haram. Tentu ini bukan suatu hal yang tidak memiliki sebab. Dan sebab-sebab itu dipaparkan dalam poin-poin berikut ini:

  • Ini adalah hukum awal istighfar. Patokannya adalah dalil-dalil yang sudah ditulis di atas. Dan kiranya, dalil-dalil tersebut sudah cukup untuk menjadi dasar seseorang beristighfar. Alasan kenapa hukumnya sunnah adalah karena istighfar adalah bagian dari cara untuk mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah.
  • Hukum ini tersemat pada istighfar manakala seseorang berbuat dosa. Alasannya, istighfar adalah bagian dari bertaubat, meski tidak cukup dengan ucapan istighfar saja bertaubat bisa dilakukan. Lalu bagaimana? Dengan istighfar, lalu tidak mengulang dosa tersebut setelahnya.
  • Hukum istighfar ini adalah ketika seseorang membaca istighfar ditujukan kepada seorang yang bukan muslim. Dengan demikian, tidak boleh seorang muslim beristighfar kepada orang yang non muslim. Dalil Qurannya adalah:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113) وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

 [التوبة/113، 114]

Tentang apa arti ayat tersebut, Anda bisa melihatnya di Quran Terjemah. Tentang maksud, ayat itu menjelaskan tentang Nabi dan orang yang beriman tidak memintakan ampunan bagi orang musyrik. Demikian juga Nabi Ibrahim, tidak memintakan ampunan bapaknya kecuali sesuatu yang sudah dijanjikan Nabi Ibrahim kepada bapaknya.

Macam-Macam Istighfar

Adapun untuk beragam macam-macam bacaan istighfar yang ada, antara lain;

  • Bacaan istighfar yang paling pendek

 اَسْتَغْفِرُ الله

  • Bacaan istighfar juga bisa dengan

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

  • Istighfarnya Nabi Adam

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 [الأعراف/23]

  • Istighfarnya Nabi Musa

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (16) قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِلْمُجْرِمِينَ

 [القصص/16، 17]

  • Istighfarnya Nabi Yunus

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

 [الأنبياء/87]

  • Istighfarnya Nabi Ibrahim seperti yang disebut dalam Surat Ibrahim ayat 41

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

  • Istighfarnya Nabi Sulaiman seperti yang ada pada Surat Shod ayat 35

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

  • Sayyidul istighfar, istighfar yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Riwayatnya ada pada Shohih Bukhari.

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِى ، اغْفِرْ لِى ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

Keutamaan Istighfar

Ada banyak manfaat dan keutamaan istighfar. Tidak hanya untuk melebur dosa, tetapi juga sebagai penarik rizki, penambah wibawa, dan lain sebagainya. Beberapa yang akan disebutkan di bawah ini hanyalah sebagian saja.

  • Istighfar untuk menebus dosa

Ini sebagai inti dari istighfar itu sendiri, yaitu menebus dosa. Tentu saja, tujuannya agar diri seseorang menjadi lebih bersih secara batin. Dengan batin yang bersih, akan tercipta kedekatan dengan Allah. Demikianlah.

  • Istighfar untuk menarik rizki

Istighfar yang keutamaannya cenderung pada menarik rizki materi adalah istighfar yang dibaca Nabi Sulaiman. Dikisahkan Nabi Sulaiman adalah raja terkaya di dunia pada zaman tersebut. Tidak hanya kaya, Nabi Sulaiman juga disegani.

  • Istighfar sebagai bentuk bakti kepada orang tua

Istighfar yang memiliki keutamaan seperti ini adalah istighfar Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim sendiri adalah salah satu nabi yang sabar dan memiliki hati yang lembut. Itu sebabnya, beristighfar dengan menggunakan istighfar Nabi Ibrahim, akan lebih maqbul.

  • Istighfar meminta perlindungan kepada Allah serta mendapat jaminan surga

Ini adalah keutamaan sayyidul istighfar. Keutamaan itu disebutkan di dalam hadits riwayat Imam Bukhari berikut. Siapa yang membaca sayyidul istighfar pagi dan sore dengan hati yang yakin, dia akan mendapat jaminan surga.

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ بُشَيْرِ بْنِ كَعْبٍ الْعَدَوِىِّ قَالَ حَدَّثَنِى شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « سَيِّدُ الاِسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِى ، اغْفِرْ لِى ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ »

قَالَ « وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Demikian, semoga ulasan singkat namun juga lengkap tentang pengertian istighfar, dasar hukum, macam, dan keutamaannya jikalau diamalkan bisa membawa manfaat besar bagi Anda atau orang di sekitar Anda. Salam dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *