Pengertian Syirik, Hukum, Macam, dan Contohnya

Salah satu hal yang dibenci Allah adalah syirik. Perbuatan ini harus benar-benar dihindari oleh orang yang ingin menjadi mukmin kaffah. Lantas, apa sebenarnya pengertian syirik, hukum, macam, dan contohnya? Untuk itu, ada baiknya Anda membaca ulasannya dalam artikel ini.

Pengertian Syirik

Secara bahasa syirik bisa diartikan dengan persekutuan. Bisa juga diartikan percampuran antara dua hal. Asal katanya adalah الشِّرْكَةُ. Dengan demikian, lafadz وقد اشترك الرجلان bisa diartikan dengan dua orang laki-laki yang saling bersekutu atau berpartner.

Bentuk mufrod dari syirik sendiri adalah syirku (الشِّرْك). Sedang bentuk jamak dari kata itu adalah asyrok (أشراك). Lantas bagaimana dengan pengertian syirik secara istilah?

: أما الشرك في اصطلاح الشرع، فهو

أن يَجْعَلَ العبد لله ندا في ربوبيته، أوألوهيته،أو أسمائه وصفاته

[ وهي المباحث الثلاثة التي سبق الكلام فيها]

Syirik secara istilah adalah menjadikan persamaan Allah dan melekatkan sifat ketuhanan, asma, dan sifat Allah pada persamaan tersebut. Salah satu hadits yang tertulis dalam Kitab Shohih Bukhari juga menyebut pengertian syirik. Dalam hadits tersebut, pengertian syirik adalah menyamakan sesuatu yang diciptakan sendiri dengan Allah.

حَدَّثَنِى عُثْمَانُ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ

عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم –

أَىُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ « أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ » .

قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ ، قُلْتُ ثُمَّ أَىُّ قَالَ «

وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ »

. قُلْتُ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « أَنْ تُزَانِىَ حَلِيلَةَ جَارِكَ »

Dari pengertian itu, tentu bisa dimengerti bahwa syirik bukan tentang seseorang yang menyembah hal di luar Allah saja. Syirik juga bisa berbentuk penyematan suatu hal yang menjadi milik Allah, kepada sesuatu selain Allah.

Di sinilah menariknya. Sebab, dengan begitu, akan lebih sulit mengidentifikasi hal yang masuk dalam syirik atau bukan sama sekali. Karena itu, perlu pikiran jernih dan perenungan yang dalam sebelum menyebut sesuatu yang tampak syirik sebagai syirik. Dan akan lebih baik jika segala hal tentang itu dilandasi dengan kebijaksanaan dan keilmuan yang lapang.

Di Indonesia sendiri, prilaku-prilaku yang dilakukan dalam hal beragama berbeda dengan cara-cara orang Arab. Semacam selamatan setiap kali ada sanak saudara yang meninggal. Acara selamatan itu mungkin tidak akan ditemukan di Arab. Tetapi itu ada di Indonesia.

Nyekar di makam ketika jelang bulan ramadlan atau jelang hari raya juga demikian. Adat-adat semacam itu tidak boleh seketika dihukumi syirik. Sebab, perlu diketahui dulu, apa yang dilakukan di sana. Jika yang dilakukan adalah meminta-minta pada makam dan menyembah-sembah, mungkin bisa dikategorikan syirik. Tetapi jika yang dilakukan adalah berdoa untuk ahli kubur, berbeda lagi hukumnya.

Inilah mengapa, perlu ditegaskan, tidak elok menghukumi segala hal yang terindikasi syirik sebagai syirik dengan hanya melihat di permukaan. Cari tahu lebih dalam, cari hukumnya, dan barulah disampaikan. Atau, jika perlu lakukan hal yang membuat suatu perkara tidak lari ke syirik, tetapi lari pada hal yang diperbolehkan dalam Islam. Tentu itu menjadi tindakan yang lebih baik dan lebih bijak.

Hukum Syirik

Syirik haram dilakukan. Dosa syirik bahkan tergolong dalam dosa besar. Dosa besar tidak bisa diremehkan. Pelakunya diancam dengan neraka. Dan ini sudah jelas seperti yang disebut dalam hadits dalam Shohih Muslim.

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِىُّ حَدَّثَنَا أَبِى حَدَّثَنَا شُعْبَةُ

عَنْ أَبِى عِمْرَانَ الْجَوْنِىِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسل

م- قَالَ « يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا لَوْ كَانَتْ لَكَ الدُّنْيَا

وَمَا فِيهَا أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهَا فَيَقُولُ نَعَمْ فَيَقُولُ قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ

مِنْ هَذَا وَأَنْتَ فِى صُلْبِ آدَمَ أَنْ لاَ تُشْرِكَ

– أَحْسَبُهُ قَالَ –

وَلاَ أُدْخِلَكَ النَّارَ فَأَبَيْتَ إِلاَّ الشِّرْكَ ».

Dalam Shohih Bukhari juga disebutkan, meski dengan redaksi yang berbeda, bahwa menghindar dari syirik akan meringankan siksa neraka. Sebaliknya, perbuatan syirik akan memperberat siksa seseorang di neraka.

َدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِى عِمْرَانَ الْجَوْنِىِّ عَنْ أَنَسٍ يَرْفَعُهُ

« أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ لأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِى الأَرْضِ مِنْ شَىْءٍ كُنْتَ تَفْتَدِى بِهِ قَالَ نَعَمْ .

» قَالَ فَقَدْ سَأَلْتُكَ مَا هُوَ أَهْوَنُ مِنْ هَذَا وَأَنْتَ فِى صُلْبِ آدَمَ أَنْ لاَ تُشْرِكَ بِى . فَأَبَيْتَ إِلاَّ الشِّرْكَ

Kitab Ihya’ Ulumiddin pun menyebut, syirik adalah salah satu dari dua hal yang paling buruk. Ada dua hal yang keburukannya tidak ada yang melebihi. Dua hal itu adalah menyakiti atau mencelakai hamba Allah, serta syirik itu sendiri. Haditsnya adlaah sebagai berikut:

وقال صلى الله عليه وسلم: ” خصلتان ليس فوقهما شيء من الشر: الشرك بالله والضر لعباد الله. وخصلتان ليس فوقهما شيء من البر: الإيمان بالله والنفع لعباد الله ”

Tampaknya hadits-hadits di atas harus menjadi catatan penting untuk benar-benar menjauh dari perbuatan syirik. Terlepas nanti apakah ada perbedaan persepsi tentang kesyirikan suatu hal, niat untuk menjauhi syirik harus ditanamkan dalam-dalam. Jika pun nanti memang ada perbedaan pandangan, langkah bijak lah yang diambil. Tentu berbekal dengan keilmuan dan pengetahuan yang mumpuni.

Macam dan Contoh Syirik

Ada dua sisi pandang yang menjadi latar pembahasan macam-macam syirik. Pertama dilihat dari jenis tauhid yang dihinggapi. Kedua, dilihat dari sisi tingkatan syirik yang dilakukan.

Syirik Dilihat dari Tauhid yang Dihinggapinya

Syirik hinggap pada tiga jenis tauhid. Ketiga tauhid tersebut adalah tauhid rububiyyah, tauhid ilahiyyah, serta tauhid asma dan shifat Allah. Masing-masing memiliki contoh dan pembagian sendiri-sendiri. Syirik yang hinggap pada tauhid rububiyyah misalnya, terbagi menjadi dua.

  • Tidak mengakui adanya Allah. Ini seperti yang dilakukan Firaun. Atau seperti Haman yang juga tidak mengakui adanya Allah.
  • Mengakui adanya Allah, tetapi yakin bahwa ada yang membantu Allah dalam menciptakan semua hal. Ini termasuk dengan orang-orang yang meyakini bahwa tuhan yang mencipta alam tidak hanya satu, tetapi lebih dari satu.

Selanjutnya, syirik yang hinggap pada tauhid ilahiyyah. Syirik ini juga terbagi menjadi dua. Keduanya adalah:

  • Menyamakan Allah dan yang lain dalam cara beribadah. Ini seperti yang dilakukan oleh umat Nasrani. Umat Nasrani menyembah dan menyamakan Nabi Isa dengan Allah. Mereka juga meminta dan berdoa pada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dilakukan oleh Nabi Isa.
  • Menyembah Allah tetapi tidak ikhlas. Atau menyembah Allah karena makhluk. Ini seperti orang yang shalat dengan baik ketika ada orang di sekelilingnya, tapi tidak ketika shalat sendiri dan sepi dari lalu lalang orang.

Berikutnya, syirik yang hinggap pada tauhid asma dan sifat Allah. Syirik ini juga terbagi menjadi dua. Keduanya adalah:

  • Mutlak mendustai dan mengikari sifat-sifat tersebut. Mengingkari sifat-sifat Allah adalah bagian dari syirik. Karena mengimani sifat-sifat Allah adalah bagian dari hal yang wajib dilakukan oleh seorang mukmin. Sebaliknya, jika tidak mengimani sifat-sifat Allah, artinya seseorang juga tidak mengimani eksistensi Allah. Demikianlah.
  • Menyamakan asma dan sifat Allah dengan hal-hal selain Allah. Ini seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi. Orang Yahudi percaya bahwa Allah memiliki sifat kekurangan.

Syirik Dilihat dari Tingkatannya

Ada dua tingkatan syirik. Tingkatan pertama adalah syirik besar. Tingkatan kedua adalah syirik kecil.

  • Syirik besar. Secara definisi, syirik ini adalah syirik yang membuat seseorang keluar dari Islam. Syirik besar ini seperti seorang yang berdoa pada selain Allah. Seorang yang menyembelih kurban bukan karena Allah juga bagian dari orang yang melakukan syirik besar. Menyamakan Allah dengan selain Allah juga bagian dari syirik besar.
  • Syirik kecil. Syirik ini adalah syirik yang tidak menjadikan seorang keluar dari Islam. Namun demikian, syirik ini membuat keimanan dan ketauhidan seorang menjadi berkurang.

Bentuk-bentuk syirik kecil seperti syirik dalam ucapan. Orang yang bersumpah dengan selain Allah berarti sudah melakukan syirik kecil. Berbuat kebaikan dengan niat agar mendapat pujian orang juga bagian dari syirik. Syirik semacam ini disebut dengan syirik khafi atau syirik yang samar.

Demikian ulasan tentang pengertian syirik, hukum, macam, dan contohnya dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga melalui materi ini dapat memberikan kebermanfaatan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca sekalian. Terima kasih.

Leave a Comment

Shares