Macam Penyakit Hati dalam Islam dan Obatnya

Diposting pada
Rate this post

Macam Penyakit Hati dalam Islam

Hati menjadi bagian dalam pada tubuh manusia yang paling sering bergolak. Pergolakan ini tidak hanya mempengaruhi kesehatan ruhaniyah seseorang saja, tetapi juga berpengaruh pada jasmani si orang yang memiliki hati tersebut. Dalam hati ada seragkaian masalah yang perlu dibenahi.

Penyakit Hati dalam Islam

Penyakit hati adalah serangkaian tindakan yang dinilai negatif dan bahkan mengandung sifat buruk dan tercela (Al-mazmumah) sehingga dalam konteksnya setiap umat Islam yang ada di dunia ini senantiasa berusaha untuk dapat menghilangkan dan mencegah kehadirannya.

Macam Penyakit Hati

Karena itu, penting kiranya mengetahui macam penyakit hati dan obatnya seperti yang dituturkan artikel ini.

Iri

Sifat iri sering disebut dengan Hasad di dalam Bahasa Arab. Jika merunut arti secara bahasa, iri sendiri adalah sifat tidak suka atas nikmat yang diterima oleh orang lain. Rasa iri ini biasanya muncul akibat tidak rela orang lain menerima nikmat yang lebih baik dari nikmat si orang yang iri atau bahkan nikmat yang sama dengan si orang yang iri.

Larangan terhadap sifat ini Allah jelaskan di dalam ayat 32 Surat an-Nisa’. Menariknya, dalam ayat tersebut Allah juga menyarankan untuk bersikap menerima dan terus berdoa kepada Allah. Itu yang sekaligus menjadi obat penyakit iri ini. Bunyi ayatnya adalah sebagai berikut:

وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُواْ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

Banyak Makan

Banyak makan adalah salah satu penyakit hati yang berbahaya. Banyak makan ini berkaitan dengan syahwat perut yang patut diperhatikan. Pasalnya, dari makanan dan perut banyak penyakit dan hal-hal negatif yang timbul. Tidak hanya urusan penyakit-penyakit jasmani, tetapi penyakit rohani pun banyak yang bersumber dari perut.

Cara mengobati penyakit ini adalah dengan banyak berpuasa dan riyadloh. Dan terkait dengan syahwat perut dan banyak makan, ada satu hadits yang menarik untuk disimak. Hadits di dalam Ihya’ Ulumiddin tersebut menyebut bahwa berfikir adalah bagian dari ibadah. Sedang menyedikitkan makan adalah ibadah. Bunyi hadits tersebut adalah:

الفكر نصف العبادة وقلة الطعام هي العبادة

Bicara Kotor

Bicara kotor adalah bagian dari bahaya lidah. Inilah mengapa ada satu hadits yang menyebut fadlilah diam. Salah satu fadlilah diam adalah seperti yang disebut dalam hadits berikut ini:

الصمت حكم وقليل فاعله

Disebutkan dalam hadits dari Kitab Ihya’ Ulumiddin itu, bahwa diam adalah hikmah. Sedikit orang yang bisa diam. Hikmah dalam hadits tersebut diartikan dengan berbicara benar. Artinya, diam adalah bagian dari berbicara benar. Tentu ini bisa dipahami, bukan?

Amarah

Amarah dalam kajian Islam sering disebut dengan ghodob. Amarah merupakan panas yang timbul di dalam hati. Sebab Allah menciptakan manusia untuk rusak dan kemudian mati. Rusak dalam hal ini salah satunya adalah adanya sisi panas dalam diri manusia.

Amarah sendiri tidak bisa benar-benar dihilangkan dari diri seseorang. Justru tidak bagus bila seseorang tidak memiliki amarah sama sekali. Sebab, pada bagian tertentu, ada juga amarah yang dinilai baik. Salah satunya adalah amarah ketika melihat kemungkaran terjadi. Karena itu, hal terbaik untuk menyikapi amarah adalah mengontrol, bukan menghilangkan.

Cinta Dunia

Apa sebenarnya maksud cinta dunia? Cinta dunia adalah prilaku menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan melupakan akhirat. Ciri-ciri orang yang memiliki penyakit ini adalah menjadikan hal-hal yang terkait keduniaan sebagai prioritas.

Cinta dunia ini dicontohkan di dalam Quran. Disebutkan, orang Bani Israil memilih dunia daripada akhirat karena melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Taurat. Bunyi ayatnya adalah sebagai berikut:

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

 [البقرة/86]

Bakhil

Banyak orang menyebut bakhil dengan irit yang keterlaluan. Secara pengertian, bakhil adalah menahan sesuatu yang seharusnya menjadi milik atau diberikan kepada orang lain berdasar adat atau agama. Ini semacam, seseorang yang memiliki kewajiban membayarkan zakat anggota keluarganya, tetapi tidak dia lakukan. Maka orang tersebut mendapat julukan bakhil.

Hal ini tentu berbeda dengan meminta uang pada seseorang tetapi orang tersebut tidak memberikannya. Sebab, tidak serta merta dengan tidak memberikan uang tersebut, dia bisa disebut bakhil. Jika memang sudah menjadi keharusan untuk memberikan, dia disebut bakhil. Jika tidak, maka tidak. Salah satu dalil bakhil adalah sebagai berikut:

لا يدخل الجنة بخيل

Hadits yang disebutkan di dalam Ihya’ Ulumiddin tersebut mengatakan, orang bakhil tidak akan masuk ke dalam surga.

Cinta Harta

Cinta harta hampir sama dengan bakhil. Hanya saja, cinta harta memiliki pengertian yang lebih luas lagi. Orang yang tidak mau menshodaqohkan kelebihan hartanya, adalah bagian dari cinta harta. Berbeda dengan bakhil yang terfokus pada ‘kewajiban’ atau ‘keharusan’ saja.

Baik cinta dunia, bakhil, atau cinta harta, hanya bisa diobati dengan perenungan, riyadloh, dan memahami baik-baik bahwa sifat itu adalah sifat yang buruk. Selebihnya adalah belajar bersikap dengan sesuatu yang berlawanan dengan tiga sifat tersebut.

Takabbur

Takabbur adalah sombong. Sombong menjadi sifat yang buruk karena hal itu sama sekali tidak patut dengan sifat dasar manusia yang lemah.

Salah satu kisah yang berkaitan dengan sifat ini adalah Kisah Firaun. Kisahnya tentu sudah sering didengar. Atas kesombongannya, pada akhirnya Firaun tenggelam di Laut Merah bersama pasukannya. Mengobatinya dengan selalu bersikap rendah hati.

Cinta Pangkat

Salah satu indikasi seseorang cinta pangkat adalah sikap memburu popularitas atau strata sosial di mata orang lain. Atau bisa juga ditandai dengan keinginan ‘dianggap sesuatu’ oleh orang lain. Cinta pangkat adalah bagian nafsu yang perlu diperhatikan. Pasalnya, penyakit ini kadang tidak disadari kecuali dengan perenungan yang dalam.

Riya’

Riya’ sama arti dengan pamer. Mudahnya, riya’ adalah cari muka. Secara definisi, riya’ adalah membuat persepsi di hati seorang dengan memperlihatkan sesuatu yang baik. Sesuatu yang baik di sini bisa prilaku, bisa sesuatu dalam bentuk barang atau nikmat tertentu. Menariknya, riya’ juga terlaku dalam ibadah. Di sinilah pembahasan tentang riya’ menjadi menarik.

Titik inti dari riya’ sendiri adalah membuat persepsi di hati seseorang. Jika dalam bersikap atau berprilaku tidak ada hal ini, maka prilaku tersebut tidak bisa disebut dengan riya’.

Suka Pujian

Suka pujian adalah salah satu hal yang menjadi rentetan dari riya’ dan cinta pangkat. Dari satu sisi, sebenarnya pujian baik terhadap diri seseorang. Tetapi, jika urusannya adalah suka dipuji, ini yang tidak baik. Sebab, kecenderungan orang yang suka dipuji mengarah pada riya’ dan pamer hal-hal yang bahkan tidak dimilikinya. Di sinilah salah satu bahaya dari suka pujian.

Nifaq

Nifak sering ditandai dengan tiga hal: ingkar janji; dusta; dan berkhianat. Sama dengan penyakit hati yang lain, perlu perenungan dan introspeksi diri untuk bisa melihat benar-benar penyakit ini di dalam hati. Dengan mengetahuinya, nalar dan akal digunakan seraya mendekat kepada Allah, kadar penyakit ini akan berkurang.

Ghurur

Jika diartikan, ghurur adalah terbujuk. Salah satu ciri orang yang mengidap penyakit ini adalah: jika dia memiliki harta yang banyak, dia menganggap itu adalah karomah dari Allah. Harta itu dianggapnya sebagai suatu yang mulia. Sebaliknya, jika harta itu diambil oleh Allah, dia mengganggap Allah tengah menghinakannya.

Ghurur muncul dari ketidaktahuan seseorang pada sifat Allah. Ini seperti contoh, seorang merasa bebas bermaksiat karena menganggap rahmat Allah sangat luas dan semua dosa akan diampuni. Inilah ghurur. Rahmat Allah memang luas, tapi bukan artinya, seorang suka-suka melakukan maksiat.

Jubn

Penakut atau Jubn merupakan penyakit yang terlihat samar, apalagi jika disandingkan dengan kesabaran. Dalam menghadapi persoalan, takut dan sabar akan tampak berbeda. Orang yang sabar dalam menghadapi persoalan dilandasi oleh pengetahuan yang baik dan menimbang maslahah yang timbul dari kesabarannya.

Sedang orang yang takut, mengambil sikap dengan landasan rasa takutnya tersebut tanpa mempertimbangkan maslahah dan lain-lainnya.

Putus Asa

Putus asa menjadi penyakit hati yang sering mendera orang-orang ketika tertimpa musibah. Rasa putus asa ini dipicu oleh tidak adanya harapan atau cita-cita. Itu sebabnya, seseorang harus membangun cita-cita yang kuat dalam dirinya.

Demikian juga dengan harapan atau roja’, sama dibangung dengan kuat. Sebab, dua hal inilah yang sebenarnya bisa menjadi penghalang timbulnya putus asa di dalam diri.

Salah satu dalil larangan putus asa adalah seperti ucapan Nabi Ya’qub kepada putra-putranya. Hal itu disebutkan di dalam ayat 87 pada Surat Yusuf.

وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

 [يوسف/87]

Demikian ulasan tentang berbagai macam-macam penyakit hati dan obatnya yang ada dalam Agama Islam. Semoga benar-benar bisa membantu, atau setidaknya bisa mencerahkan. Terima kasih. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *