VISI:

Mewujudkan pesantren yang mampu menghasilkan lulusan yang mampu memahami dan mendalami ilmu agama, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta insan yang berbudi pekerti luhur dan berahlakul karimah.

 

  1. Memantapkan iman dan taqwa serta mengembangkan ilmu pengetahuan agama untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat berdasarkan Al-Qur’an dan Assunnah.

MISI

  1. Beriman dan bertaqwa, berprestasi serta berakhlakul karimah.
  2. Mengarahkan dan mengantarkan umat memenuhi fitrahnya sebagi khoirul ummah yang dapat memerankan kepeloporan kemajuan dan perubahan social, sehingga tercipta negera Indonesia yang Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghafur.

TUJUAN

  1. Mencetak generasi muda menjadikan pribadi islami
  2. Untuk dijadikan pusat unggulan ( dalam arti khusus ) sehingga tercipta persaingan yang sehat dan mandiri.
  3. Mengupayakan peserta didik yang memiliki tingkat keberhasilan ilmiyah yang tinggi.
  4. Mampu mengimplementasikan IMTAQ dalam kehidupan sehari-sehari

Sebagai institusi non formal, Pondok Pesantren Al-Huda merupakan mitra pendidikan formal yang mendidik warga bangsa secara paripurna. Pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan orang tua. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah memiliki keterbatasan dalam menyelenggarakan pendidikan formal dan sekaligus mengisyaratkan kepada lembaga-lembaga masyara

kat untuk menyelenggarakan pendidikan non formal. Berdasarkan pada suatu kenyataan bahwa pendidikan merupakan suatu pilar utama kemajuan suatu bangsa (dalam bidang moral dan intelektual). Pernyatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan membutuhkan penanganan yang serius, terencana dan sistematis.

Dalam sebuah tulisannya, Brunt menyebutkan tiga karakteristik utama seorang cendekiawan, yaitu devote of values ”keterlibatan dalam nilai-nilai luhur”, devote of ideas “keterlibatan dalam gagasan-gagasan kemajuan”, dan devote of knowledge “keterlibatan dalam ilmu pengetahuan “. Pendidikan non formal cenderung mengedepankan unsur ketiga, (devote of knowledge). Oleh karena itu, keberadaan pondok pesantren sebagai institusi non formal sangat signifikan dan urgen sebagai mitra dan sarana pengembangan unsur pertama dan kedua (diatas) bagi pendidikan formal.

Pondok Pesantren Al-Huda, yang merupakan mitra pendidikan formal diharapkan mampu menyingkirkan adagium klasik ilmuan terkemuka Enstein : Agama tanpa ilmu akan pincang, sebaliknya ilmu tanpa agama akan buta. Para santri Al- Huda tidak hanya terdiri dari santri aga

ma ( santri yang hanya belajar ilmu agama ), tetapi ada juga yang belajar di institusi formal, yaitu SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Juga ada santri sepuh ( santri / ikhwan yang menganut Thoriqoh An Naqsabandiyyah Kholidiyyah ). Bahkan santri ketiga ini menempati porsi terbesar.

Pondok Pesantren Al-Huda didirikan sekitar tahun 1880. Pondok ini terletak di Jetis, Desa Kutosari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Lokasinya sangat setrategis karena terletak di jantung kota Kebumen, pondok pesantren ini juga berdekatan dengan be

berapa tempat pendidikan formal, seperti SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi, masjid Agung dan pusat pemerintahan kabupaten Kebumen.

Kurikulum Pondok Pesantren Al- Huda lebih menekankan pada pendidikan agama seperti ilmu fiqh, bahasa arab, ilmu alat ( nahwu dan shorof ), tauhid dan akhlak. Pondok Pesantren Al-Huda terdiri dari dua kelompok: (a) Kelompok remaja serta dewasa. (b) Kelompok orang tua. Kelompok remaja dan orang tua dikategorikan menjadi dua macam. Pertama, santri yang khusus belajar ilmu agama dipesantren. kedua, santri yang belajar ilmu agama di pesantren dan belajar ilmu umum di SMP, MTs, SMA, MA, SMK baik negeri maupun swasta, dan juga belajar di Perguruan Tinggi (STAINU, STAISA, STIE, PGSD) Jumlah keseluruhan santri sekitar 650 santri. Untuk santri putra 440 dan santri putri 210.

 

Kelompok santri tua menempuh pendidikan ilmu Thorikoh ‘Ulama Salaf As Sholeh, Yaitu Thorikoh An Naqsabandiyyah Al Kholidiyyah. Ilmu tersebut menekankan pada taubat diri dengan mengalahkan nafsu hati, agar dalam beribadat lebih dekat dengan Alloh SWT. Kelompok Santri ini berasal dari daerah Kebumen dan sekitarnya.

Sejarah dan tujuan berdirinya Pondok Pesantren Al-Huda

Syaikhuna Wamurobbiruhina Asysyaikh Al ‘Alim Al ‘Alamah KH. Abdurrohman adalah pendiri sekaligus Pengasuh pondok pesantren Al-Huda Jetis Kutosari Kebumen yang didirikan pada tahun 1801 M.

Semasa kecilnya beliau bernama Sholihin, dan hidup sebagai anak seorang petani biasa dan kehidupan sehari-harinya adalah mengembala kerbau milik pamannya, dan ketika beranjak remaja Beliau pergi ke Kota Makkah untuk menuntut ilmu. Disana beliau belajar ilmu Tashawwuf pada Syaikh Sulaiman Zuhdhi di Jabal Qubais. Pada saat itu di Makkah terjadi kerusuhan, yaitu dimana orang-orang Wahabi selalu meneror dan memerangi orang-orang suni, karena kejadian tersebut akhirnya beliau kondur ketanah Jaw

a, Indonesia.

Sepulangnya beliau dari Makkah, kemudin beliau menyebarkan ilmu yang diperolehnya sewaktu di Makkah, karena dalam setiap melakukan kegiatan belajar mengajar beliau dan santrinya selalu menutup pintu, sehingga mengundang kecurigaan kaum penjajah (belanda) bahwa beliau akan memberontak, yang pada akhirnya belau ditangkap dan diintrogasi tentang kegiatan yang dilakukan beliau dan santri-santrinya. Setelah beliau menerangkan bahwa semua kegiatan yang dilakukan bukan untuk memberontak, akhirnya beliau dibebaskan kembali dengan syarat beliau hanya pindah dari desa ambal, Kebumen

Kebetulan pada saat itu Bupati Kebumen membutuhkan seorang Kyai untuk ditempatkan di desa Kutosari tepatnya didukuh jetis, akhirnya Beliau ditempatkan di Jetis yang saat itu namanya telah diganti menjadi KH. Abdurrohman. Pada mulanya Jetis merupakan hutan belantara yang sangat angker dan wingit, tapi berkat jasa serta kesaktian yang dimilikinya akhirnya beliau mampu menaklukan semua dedemit yang ada disana. Disamping itu juga beliau tetap mengajarkan ilmu tashawwuf serta ditambah ilmu thoriqoh yang

dinamai Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidyah. sehingga semakin hari semakin banyak pula jama’ahnya bahkan sampai saat ini jama’ahnya telah mencapai lebih dari 10.000 jama’ah.

Manusia boleh berencana, tapi pada akhirnya Allah-lah yang menentukannya. Pada hari Jum’at waktu beliau sedang mengerjakan shalat shubuh tepatnya ketika sedang melakukan sujud tilawah, beliau dipanggil untuk menghadapNya.

Sepeninggalan Beliau Romo KH. Abdurrohman kepemimpinan pondok diteruskan oleh putra beliau, seorang Ulama yang bernama Husain, kemudian setelah Beliau meninggal dunia laju kepemimpinan diteruskan oleh adiknya yaitu mbah Hasbulloh, beliau merupakan seorang yang sangat disiplin dan bersahaja.

Beliau kemudian meninggal ketika sedang melakukan tawajjuhan. Sepeninggalnya beliau kemudian roda kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, seorang ‘Alim ‘Allamah yang bernama mbah Machfudz Hasbulloh, semasa mudanya beliau pernah mengenyam pendidikan diberbagai pondok, antara lain Pondok termas selama kurang lebih 2 tahun, kemudian dilanjutkan ke Pondok Bendo,

kediri. Yang saat itu diasuh oleh Syaikh Ghozin, Yang kemudian beliau dinikahkan dengan salah satu putri belau yang bernama Nyai Maimunah. Atas pernikahannya beliau dikaruniai 17 putra dan putri, namun yang hidup hanya 6 putra dan 6 putri, yaitu :

    1. Kyai. Abdu l Kholiq
    2. Kyai. Juwaini
    3. Nyai. Umi Kulsum
    4. Nyai. Khasanah
    5. Nyai. Masruroh
    6. Kyai. Makhrus
    7. Nyai. Hayati
    8. Kyai. Muahaimin
    9. Nyai. Siti Ma’rifah
    10. Nyai. Siti Muhayaroh
    11. Kyai. Wah ib Machfudz
    12. Kyai. Yazid Macfufudz

Kemudian beliau wafat, laju kepemimpinan pondok dipegang oleh putranya yang sulung KH. Abdul Kholiq, seorang kyai yang bertempramental keras dan sangat disiplin, tapi sayang ketika beliau sedang semangat-semangatnya mengasuh pondok beliau dipanggil untuk menghadap Rahmatulloh. Setelah beliau wafat, digantikan oleh adiknya yaitu Syaikhina Wamurobbiruhina Romo KH. Wahib Machfudz dan adiknya Romo KH. Yazid Machfudz.

Semasa mudanya beliau Romo KH. Wahib Machfudz menempuh pendidikan umum sampai tingkat tsanawiyah, kemudian beliau mondok di lirap asuhan KH. Durmuji Ibrohim, pada tahun 1974-1978. setelah itu beliau melanjutkan dipondok Al-Barokah, Kawunganten Cilacap, setelah merasa cukup kemudian Beliau melanjutkan mondoknya di Ploso yang diasuh oleh KH. Ustman Djazuli pada tahun 1980-1983. dan kemudian setelah dianggap cukup kemudian beliau pulang untuk meneruskan perjuangan kepemimpinan pondok.

Dalam pendidikannya pondok pesantren AL-Huda, menganut sistim salafi dimana setiap pembelajarannya selalu memakai dasar kitab-kitab karangan Ulama salaf atau lebih terkenal dengan se

butan Kitab Salafy atau pula sering disebut kitab gundul atau kitab kuning. dan untuk bisa membaca kitab tersebut setiap santrinya wajib bisa menguasai ilmu-ilmu alat seperti kitab al-jurumiyah, Qowa’idul ‘Irob, sebagai ilmu dasar, kitab ‘imrithi, Al-fiyah ibni malik dan kitab-kitab lainnya yang khusus membahas tentang ilmu-ilmu nahwu.

Maka dari itu pondok pesantren Al-Huda juga lebih terkenal dengan Pondok Alat yang artinya pondok yang khusus mempelajari ilmu-ilmu nahwu. Dan selain mempelajari ilmu alat pondok pesantren Al-Huda juga mempelajari tentang cara-cara membaca al-qur’an dengan benar dimana disini setiap santri wajib untuk mengetahui :

  1. setiap santri harus bisa mengetahui bagaimana cara mengucapkan huruf-huruf hijaiyah dengan fasih
  2. setiap santri harus mengetahui tentang hukum-hukum bacaan al-qur’an (ilmu tajwid)
  3. setiap santri diharuskan untuk bisa menghafal sebagian dari al-qur’an minimal surat-surat juz ‘amma
  4. Setiap santri juga diwajibkan menghafalkan surat-surat pilihan seperti Yasin, Al Mulk, Al Waqi’ah, Al Rohamn, Al Sajadah, dan Surat-surat pilihan lainnya
  5. dan setiap santri juga diwajibkan untuk mempelajari Ghorib Musykilat, bagi santri yang telah menempuh Sorogan Al-Qur’an.

dengan mengedepankan ilmu-ilmu tersebut diharapkan setiap santri mampu untuk mengetahui tentang isi yang terkandung dalam al-qur’an dan dan juga fasih dalam pelafadzannya.

Selain mengedepankan ilmu alat dan ilmu tajwid, pondok pesantren Al-huda juga mempelajari ilmu-ilmu agama yang dikemas dalam sebuah madrasah diniyah yang terbagi menjadi tujuh tingkatan. Adapun pelajaran-pelajarannya diantaranya :

  1. ‘Inatut Tholibin
  2. Hasyiyatus Shoban
  3. Fathul Qorib
  4. Alfiyah Ibni Malik
  5. Syarhul Hikam
  6. Musthalah Hadist
  7. Faraidul Bahiyah
  8. Risalatul Mahidl
  9. Tijan Durori
  10. Ta’lim Mutta’alim
  11. Khulashoh Nurul Yaqin
  12. Ilmu Mantiq
  13. Ilmu Faroidl
  14. Sullamut Taufiq
  15. Muhtashor Jiddan
  16. Safinatun Naja
  17. Talkhisul Asas
  18. Ikmal Fi Shorfiyah
  19. Qow’idul ‘Ilal
  20. Maqshud fi Shorfiyyah
  21. Ghorib Musykilat
  22. Mabadiul Fiqhiyah
  23. Taisirul Khalaq
  24. Bahasa arab
  25. Imla
  26. Hidayatussibyan

Adapun setiap pelajaran ter

sebut terbagi menjadi beberapa tingkatan dan disesuaikan dengan kelas.

Selain kitab-kitab diatas juga, para santri diwajibkan untuk mengikuti pengajian Tafsir Jalalain dan Ihya ‘Ulumudin yang langsung dibacakan olah beliau Romo Kyai Wahib Mahfudz yang diikuti oleh santri-santri khos yang khusus mondok, dan Bandungan Fathul Qorib dilaksanakan pada malam hari setelah shalat isya diikuti oleh semua santri Pondok Pesantren Al-Huda.

Pada perkembangannya Pondok Pesantren Al-Huda, setiap tahunnya selalu menunjukan grafik yang selalu meningkat terlihat dari tahun 2000 yang tercatat hanya sekitar 400 santri sekarang meningkat mencapai lebih dari 600 santri yang semuanya datang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia seperti Cilacap, Ciamis, Jakarta, Lampung, dan juga dari daerahnya sendiri Kebumen dan tidak jarang pula datang dari kota – kota seberang seperti palembang, Riau, Jambi, Bengkulu, Irian Jaya, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan berbagai daerah lainnya.

PENGASUH, ASATIDZ, DAN SANTRI

KEADAAN KYAI

Sosok Kyai merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam sebuah Pesantren, Pertumbuhan dan perkembangannya semua tergantung pada Sosok Kyai, dan tidak jarang dari kalangan masyarakat yang akan memondokan putranya tidak melihat mewahnya bangunan pesantren atau sarana prasarana yang lengkap tapi mereka memandang sosok pengasuhnya.

KH. Wahib Machfudz sebagai Pengasuh Utama Pondok pesatren Al-Huda, memang sangat berpangaruh dalam perkembangan Pondok, walaupun kesibukannya saat ini sangat padat tapi Beliau masih tetap aktif dalam mendidik para santrinya, karena selain beliau mengasuh Pondok Beliau juga diamanati sebagai Rois Syuriah PWNU Kabupaten Kebumen yang sangat menyita waktunya.

Berkat kealiman, kearifan, dan kepribadiannya yang tinggi tidak heran Beliau menjadi sosok Kyai yang dikagumi oleh para santri-santrinya, dan juga tokoh yang disegani oleh masyarakat umum bahkan sampai para pejabat sekalipun mereka selalu patuh terhadap sosok Beliau.

KEADAAN ASATIDZ

Keadaan Ustadz diambil dari lulusan-lulusan terbaik Madrasah Roudlotul Huda

Dan juga para alumni yang sengaja ditempatkan di sekitar Pondok Pesantren AL-Huda, yang kesemuanya merupakan lulusan Madrasah Roudlotul Huda, dibantu oleh Putra-Putri Pengasuh yang kesemuanya mempunyai Skill yang tinggi dalam ilmu agamanya, terhitung lebih dari 40 Ustadz yang tetap semangat serta exist memperjuangkan serta mempertahankan kesalafan Pondok Pesantren ditengah-tengah lajunya perkembangan zaman yang sangat pesat.

KEADAAN SANTRI

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak pesantren-pesantren salaf yang mengalami kemerosotan, namun tidak berlaku bagi Pondok Pesantren Al-Huda, terbukti hampir setiap tahunnya jumlah santri salalu meningkat, Walaupun masih mempertahankan sistim kesalafannya bukan berarti peminat masyarakat berkurang, bahkan banyak dari masyarakat yang dengan sengaja mencari Pesantren yang berbasis sistim salaf, walaupun banyak sekali pesantren-pesantren disekitar kita yang telah berpindah haluan menjadi pesantren modern.

SARANA DAN PRASARANA

Melihat Jumlah santri yang ada maka sarana prasarana yang ada pada pesantren Al Huda mungkin jauh sekali dari kenyamanan. Administrasi menjadi masalah utama bagi kami untuk melengkapi prasarana selengkap mungkin, walaupun begitu kita tetap menjadikan kesederhanaan sebagai prioritas kami, karena disamping itu juga kami mempunyai tujuan khusus yaitu untuk melatih para santrinya untuk bisa hidup mandiri.

Melihat letak Pondok Pesantren Al-Huda yang memang berada ditengah-tengah Pusat kota kebumen, keindahan serta kenyamanan Pesantren memang selalu menjadi tuntutan yang tidak mungkin diabaikan bagi kami, karena tidak jarang Pondok Pesantren selalu kedatangan tamu-tamu besar yang datang dari berbagai daerah bahkan pejabat negara sekalipun sering berkunjung ke Pondok Pesantren AL-Huda.

Berikut sarana Prasaran PP. Al-Huda.

NO

URAIAN

PONDOK PUTRA

PONDOK PUTRI

JUMLAH

Jumlah

Keterangan

Jumlah

Keterangan

1

Kamar Santri

25

Baik

16

Baik

41

2

Kamar mandi

28

Baik

20

Baik

48

3

Kolam wudlu

2

Baik

1

Baik

2

4

WC

21

Baik

16

Baik

37

5

Sumber Air

1

Baik

-

-

-

6

Sumur

1

Baik

-

-

-

7

Komputer

1

Baik

1

Baik

2

8

Perpustakaan

-

-

-

-

-

9

Poskestren

1

Baik

-

-

1

10

Laborat

-

-

-

-

-

11

Kantin

5

Baik

2

Baik

7

12

Aula

3

Baik

3

Baik

6

13

Koprasi

2

Baik

1

Baik

3

14

Diesel

1

Baik

-

-

1

 

Selain taffaqquh fiddin, pesantren juga menjadi agen pengembangan masyarakat. Peran serta dan kontribusi pesantren dalam bidang ini tidak diragukan lagi. Ini terbukti banyak para alumninya yang menjadi tokoh masyarakat, pejabat pemerintah dan lain sebagainya.http://alhudajetis.wordpress.com/